Bisakah kita menangkap makna, hikmah. Lima titik keramaian seputar kampus Unsoed, sehari kemarin ditutup panggung memperingati hari kemerdekaan RI, yang ke-63 ini. Beberapa hari sebelumnya, semarak berbagai lomba mengiringi penyambutan tanggal 17.

Beberapa bocah, dengan menikmati acara dengan semangat kekanakan, entah itu semangat permainan yang berarti derivasi semangat juang, bisa jadi resep saja. Menjelang malam kita akan melihat kerlap-kerlip lampu led menghiasi jalan. Membuat decak penghunia beberapa jalan Purwokerto yang biasanya pekat. Merah putih sang saka Indonesia dan umbul-umbul, yang dipancang seminggu sebelumnya, tampak semakin mempeona berkibar. Siapapun akan merasa, kota ini baru lahir.

Malam minggu 17, kebanggaan menyelimuti panggung. Juara lomba balap karung, tabok air bangsa ini telah lahir pula. Diiringi tatapan ayah dan ibu, bocah-bocah satu-persatu naik panggung. Mungkinkah mereka eksponensial dari kemenangan itu sendiri? Eksponensial dari perjuangan? Ya, sebuah penerus dari generasi bangsa yang lepas, menang dan kini menapaki kemandiriannya.

Dan, merdeka!!! Selepas itu semua bocah memenuhi panggung mengikuti irama dangdut menjelang tengah malamnya. Berbagai tarian ngetrend, dari ngebor inul sampai goyang dombret dapat ditonton dari bocah yang tak seberapa mengerti tentang kontroversi goyangan.

Dan, merdeka!!! Selepas itu semua bocah berhamburan, mencari yang dibutuhkannya sebagai individu, tempat kembali, ibu. Disambut dingin, sekilas nyinyir tersungging mengikuti kasih sayang. Sesaat tersisa kebahagiaan dan lelah, tinggal beberapa orang dewasa saja. Panggung sepi, mengiringi renungan malam, kita pun bersujud, bersyukur dalam kesepian dan dingin bulan Agustus.

Tempat kembali dari semua persinggahan, dan persinggahan tempat hayat dikandung badan. Nyonya pertiwi semakin aduhai dengan kemolekan, modern, siapa tak kenal sedu sedan, warna-warni lebih asyik dari sekedar hitam putih sejarah kelam bangsa ini.

Semua bisa tersenyum dalam ceria, perjuangan merdeka, merdeka memperjuangkan sesuatu, merdeka dan merdeka tanpa tahu arti merdeka. Merdeka dalam kecuekan kemerdekaan, isi kemerdekaan, atau mati jihad yang merdeka.

Merdeka, lepas dari belenggu. Bebaskan hatimu, dan hiduplah lebih baik lagi.

Tiga dari gerombolan itu berseru, “Teka, teka.” Disambut hangat yang lainnya, riuh rendah harapan menukik nada bahagia. Bersegera semuanya menyambut kedatangan truk angkut, entah telah berapalama mendatangi memberi rasa tak sedap sesuatu yang kita kenal sebagai sampah. Bagi mereka, ketidakenakan itu tak lain kesempatan rezeki hari ini untuk memperjuangkan hidup.

Bukan ani-ani petani, bukan pancing pemancing, melainkan segalah besi berkarat yang ujungnya dilekukan, hanya seperti kail memiliki nama pengail sampah. Semua dari mereka memegangnya. Ada juga yang memakai garpu, garu yang digunakan untuk mengurai tanah gembur.

Mengayun rendah, digerakkan sejarak setengah meter dari sasaran, ancang-ancang yang dirasa cukup untuk memainkannya. Bulir sampah yang terlalu besar dan tak beraturan terkoyak dari satuannya. Mencuat bentuk dirinya seakan tengah meregang nyawa, tak lama terkulai pada bagian yang terpisahkan.

Memilah sampah bukan pekerjaan yang terlalu rumit, membutuhkan konsentrasi tinggi, namun tahan bau saja dan yang terpenting dari itu semua mengerti jenis sampah dalam keadaan bercampur-baur. Plastik ditemukan paling banyak dari sampah menggunung.


Pengurai, meski istilahnya begitu, pada tahap ini bukan mengurai sampah menjadi sesuatu yang berarti lagi. Sampah yang berarti sesuatu yang tak bernilai, dicampakan, sisa-sisa, baru akan diolah pada penggunaan bentuk lain di tempat daur ulang. Lain halnya yang organik, rubbish yang satu ini paling juga dibenamkan, menjadi pupuk atau musnah dimakan cacing dalam tanah dengan sendirinya.

Mari menjejak sampah, memutar waktu dari rangkai penguraian di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di pangkal mata rantai, ditemukan konsumsi, dari kegiatan memenuhi kebutuhan bermula. Pada rangkaian rantai berikutnya memiliki banyak cabang. Satu dari sekian cabang menjalar, gaya hidup kian hari menggemuk menunjukkan begitu perkasanya pola hidup modern menimbulkan ekses membengkak.

Betapa tidak, sebagian besar dari fasilitas hidup kita saat ini memiliki bahan baku plastik. Tengok di sekitar kita, benar kan? Kalau memang begitu, jangan-jangan hanya kulit yang membungkus organ kita saja yang bukan plastik? Oh ternyata tidak, operasi pelastik pun ditempuh manusia dalam perkembangannya.

Kemajuan memberi kemudahan bagi hidup, instan. Plastik memberi kemurahan ongkos kepraktisan. Di atasnya, upaya mempermudah hidup diupayakan menjadi keuntungan. Kita bisa menguatkan alasan mendasar kenapa, plastik menjadi fenomenal sampah yang kian menggunung berbanding lurus permasalahan yang mengikutinya.

Karena kitalah yang bersedia menikmati kemudahan, tanpa pikir panjang konsekuensi bagi lingkungan yang menjadi sesak pembuangan. Dan karena kita yang tak pandai membuang sampah yang baik. Dan bisa juga manajemen sampah yang tidak pandai mengelola, bisa jadi sisi lain lingkungan alam kita menjadi tempat tinggal sampah.

Sampah rumah tangga sampai merupakan jumlah yang terbanyak dibanding sampah industri. Meski sampah industri berat lebih berbahaya dari sekian sampah, kuantitas sampah apabila dibiarkan begitu saja, berimbas tak kalah besarnya pula.

Apa yang sebaiknya kita lakukan mengenai sampah? Tidakkah kita menginginkan kesehatan lingkungan alam semakin baik lagi? mestinya kita mampu bertindak efisien dengan segala barang-barang kebutuhan. Meminimalisir penggunaan barang-barang yang menggunakan plastik, mungkin juga kita perlu menanamkan sikap plasticophobia.

Pola hidup higienis bukan saja memanfaatkan kebutuhan hidup terpenuhi kebersihan dan standar sehat tertentu saja. Melainkan juga mampu secara sadar peduli dengan ekses dari penggunaan barang. Mari kita mulai membuang sampah secara tertib, memisahkan sampah berdasar jenisnya organik, plastik, logam, kertas, berbahan kimia dan sebagainya.

Kalau tidak dimulai dari diri kita masing-masing, permasalahan selesai akan tidak selesai.

As usual, this morning I set up my head square, after sholat shubuh (that lated a half hour, hehehe..), prepared a cup of coffee and so I smoking while read novel hadn’t been finished. Now, my new HQ gue at Jalan Cendrawasih.

With help of my friend Gery, temen gue yang bersedia nyempetin nguras waktu, tenaga dan bensin motornya, hari minggu kemaren seabrek barang-barang dipindah, buku-buku, baju dan komputer desktop. Malem tadi jadi malem pertama gue nginep di kosan baru ini.

Baru nyadar, padahal tiap taun juga pindah. Tapi kali ini seolah gag ada perasaan nempatin HQ baru. Entah udah kebal atau situasi lingkungan yang terasa udah gag asing lagi. Moga-moga tempat ini bisa ngasih kesempatan lebih gede lagi sebuah inspirasi kehidupan. Hidup serumah dengan si empunya dengan kultur jawa tulen bisa memberi keramahan sekaligus pembelajaran bermasyarakat. Selama ini gue tinggal di tempat yang lepas dari campur tangan bapak/ibu kos. Pergaulan kejawaan Cuma didapet dari pergaulan, yang itu juga gag seberapa signifikan.

Selesai angkut-angkut, malem tadi cuap-cuap di angkringan. Ngalor-ngidul ngobrol, seenggaknya tetep manfaat. Mau tau??? Waaaa kalo ditulis, kepanjangan. Sorry…

Jam sebelas malem, gue masih asyik otak-atik pasangin komputer. Komputer nyala, Cuma lupa set key board sama mouse, walhasil komputer nunjukkin prepare your hard ware properly. Tiba-tiba…pret…

Gue panik. Komputer mati. Jtark-jtrek stabilisernya juga mati. Total mati..

Kabel roll terpaksa dicabut dari stop kontaknya. Dites tespen tetep aja mati. Kecurigaan mengacu pada pemasangan stop kontak. Terpaksa gue tunda, may be sikring listrik rumah harus dimatiin total, masak iya malem-malem harus dimatiin.

Jam delapan, stop kontak gue beresin. Ternyata bener, maklum listrik untuk sebuah rumah tempoe doeloe gak pernah bener. Penggunaan alat-alatnya juga merek kualitas rendah, udah gitu karatan lagi.

Seharusnya jam delapan gue berangkat magang kerja di Bank Muamalat. Bolos deh…hari pertama lagi. Gak apa-apa, yang penting urusan tetekbengek HQ udah selesai. Tapi gue bakal bertanggung jawab dengan konsekuensi besok kalo masuk magang. Wah-wah…selalu aja ada yang dikorbanin dari aturan hidup. Bener kan???

Next Page »