Kali ini sudah ga tahan aku menyandang status jomblo bawaan lahir. Di hidup yang menuju linear, sebenarnya pembawaanlah wujud keberadaan. Itu sebabnya aku sangat bahagia ketika meninggalkan si pesantren kampungan. Lihat saja Budug-ku ini, belum hilang juga. Sampai risih dibuatnya, sehari lagi di sana mungkin belatungan.
Kawanku si Acong, sering mengatai penyakit yang diciptakan dinasti Shun Go Kong selama aku berbakti pada ajarannya itu. Bayangkan saja, di usia 13, yah..baru kelar dari bangku sekolah dasar lah.. Jalan terakhirku cuma sebisa mungkin membuat fantasi pada sosok itu seasik-asiknya. Yang kupilih adalah Shun go Kong, karena kebiasaan saja di rumah melihat film Kera Sakti.
Waktu si papa sama si mama mengirim si kecil aku ke kerajaan antah berantah. Baru besoknya bisa ikhlas membuka mata, kemudian diajak jalan-jalan keliling komplek yang kulihat di gerbang utamanya tertulis Cipasung. Ini salah satu upaya mereka agar bisa menjinakkan keliaranku. Entah keliaran atau kenakalan, aku tak tahu. Pastinya aku hanya tertarik mencoba ini itu.
Aku suka merangkul orang dari belakang, terus kupukuli sembari menghindar cengkramannya, yang, tentu saja lebih besar dari posturku.
Waktu itu lagi santer-santernya ninja membunuh kiai dan guru ngaji. Saking takutnya, aku banyak meringkuk di kobong, biar tidak disangka salah satu jagoan ninja juga. Kalau waktu itu tahu bahwa ternyata ninjanya jahat, aku lebih memilih posisi kiai. Tapi, kebencianku sama Shun Go Kong menutup kejujuranku pada realita.
Mau pipis tengah malam kepaksa dirapel dengan pipis pagi. Akibatnya semalaman ga tidur, paling biasanya aku hanya memegang-megang alat kencingku. Hingga menjelang adzan shubuh, ketika rais berkeliling mengetok-ngetok pintu sambil lirih melagukan “subuuh..subuh..” baru aku terperanjat. Lalu memburu kamar mandi supaya dapat giliran pertama. Sayangnya kobong-ku adalah ruang busuk paling ujung dari deretan 16 ruang busuk lain di lantai dua. Sedang teman sekamarku, tiga makhluk gendut kebluk.
Untuk menghela ruang dari posisiku yang terbaring di sebelah sudut, harus melangkahi dan tetap membuat mereka nyaman dari tidurnya. Tapi selalu saja mengusik sampai setengah terbangun, lalu tidur lagi. Mereka seolah irama dini hari bagiku.
Setelah susah payah lepas dari polisi tidur, aku yang menahan pipis harus terjepit mereka yang berbarengan keluar dari rendaman neraka. Badannya bau, seleranya nyusutin bibir berlendir.. bukan berarti aku ga jorok, aku memang jorok tapi tidak sejorok mereka. Itu saja..
Di wc bersama, aku harus mematung sebelum bisa mengekspresikan seni yang tertampung di ginjal. Dasar nasib…
Aku baru masuk mesjid setelah memperoleh tiket pas untuk hadast kecil. Di sana kujumpai kiai tengah merapal puji-pujian sembari menunduk-nundukkan kepala. Sedang tak ada yang kulakukan selain memeluk lutut yang disarungi.
Setelah subuhan, panas pagi menyerang kami melalui jendela-jendela mesjid dan sementara itu udara di luar menusuk membikin kaku, adalah suasana paling aku sukai. Keramaian hati karenanya lebih kunikmati ketimbang ta’lim. Lambat laun kekhusuan sepertinya menjadi kebutuhan, menjadi fantasi dari penghayatan isi ceramah. Aku ingin mengerti isi kuliah sekaligus tidak ingin meninggalkan dianoia seperti Plato yang besar.
Berselang satu tahun, dianoia menjadikanku Plato kecil. Tapi, teman-teman menyangka kelainanlah yang hinggap ke kepala.
Di budaya phlegmatis, menjadi berlainan disebut kejanggalan. Menuruti kata hati, tak lebih dibilang cengeng. Dan, punya prinsip, hmm … itulah ciri-ciri orang yang harus diperbudak rame-rame. Kebanyakan memang menginginkan rata-rata.
Berangkat sekolah, aku malah sibuk merapikan kobong lantai dua mencari alas kaki. Sampai sepatu itu kehabisan tempat persembunyiannya, aku lebih bisa mempersingkat gelagat bingung yang dibentuk mereka. Ya, mereka teman-teman kurang ajarku!!
Ingin sekali aku mengatai mereka, jika Shun Go Kong memang tidak mempan. Akan kuajari mereka dengan PPKn-nya Depdiknas, tapi yang lebih mengena daripada yang diajarkan sekolah. Seperti yang dilakukan Gus Dur yang sedang naik daun.
Sering kuperhatikan ia di televisi, hingga membentuk visiku terhadap masyarakat yang suka ribut. Tak berselang lama, idolaku menjadi wahid. Meski aku tidak berkontribusi memilihnya. Aku berterima kasih kepada Amien Rais yang membela mati-matian menjalankan sedikit syariat dalam pemerintahan. Perempuan adalah nomor 2, perempuan adalah pemimpin yang seharusnya tidak menampakkan batang hidung urusan dunia paling depan.
Aku sangat meyakini hal itu. Entah…
Kupergoki juga Rais-ku saat meminang santriwati di rumah kiai. Perempuan cukup dipilih. Laki-laki, siapa pun itu bebas menentukan. Dan, kiai adalah hukum yang berjalan. Tapi perempuan pada akhirnya akan menang. Jagoanku saja sampai ditinggal pandang semua mata orang Indonesia, bahkan dunia. Ia dilucuti hingga hanya mengenakan kaos oblong dan celana kolor.
Tak berselang lama, rais-ku juga menjadi budak perempuan. Ia sekarang sudah tidak di pesantren lagi. Ia menjadi buruh di pasar, sekedar untuk bisa menghidupi perempuan yang dirumahinya. Maksudnya, di kontrakan yang disewanya dari uang kawan-kawan yang peduli dengan ketulusannya membangunkan kami setiap pagi.
Begitu cepat semua berlalu. Guratan-guratan hari kemarin tidak pernah ditoreh lagi. Tidak ada lagi ninja membunuh kiai, tidak ada Gus Dur di televisi, tidak ada rais-ku yang jantan bangun lebih dini, kawan-kawan kurang ajarku sudah lulus. Perubahan ini membuatku mencintai dinasti Shun Go Kong.
Aku ingin menggantikan rais lalu.
Aku ingin membalas kekalahan Gus Dur.
Aku ingin mendirikan partai kaos oblong dan kolor.
Semuanya berwarna putih.
Semuanya berdasarkan prinsip.
Tapi, jika semua orang punya prinsip sendiri-sendiri, bagaimana bisa akur? Pokoknya aku harus mengujikan ini di laboratorium.
Di laboratorium biologi? Laboratorium fisika? Kimia? Laboratorium bahasa Inggris?
Aku bingung, tak ada yang nyambung.
Barangkali ini laboratorium sosial. Tapi bagaimana rupanya? Di sekolahku tak ada contoh gedung seperti itu. Aku pun tak bisa membayangkan seperti apa itu rupanya. Ini juga yang membuatku mencintai dinasti Shun Go Kong.
Di sana banyak sekali buku-buku untuk menjawab dianoia. Awalnya aku takut juga berceracau sendiri. Kata orang bisa bikin gila. Sampai aku menemukan jawaban untuk mengkonfirmasi kesalahan persepsi umum. Yang gila itu karena tidak membaca buku, tidak mencari maksud dari teka-teki pikiran, teka-teki fenomena, teka-teki dunia.
Aku ingat Muhammad sang nabi, ketika memperoleh wahyu pertama hanya disuruh membaca. Baca…baca…baca!!! Itulah kata yang selalu kuulangi jika tersandung pikiran tanyaku. Aku membaca fenomena yang terjadi karena pikiran orang-orangnya, kemudian dicari maksudnya di buku. Sampai ketika aku bertemu Kant, dia bilang Sapere Aude. Berani berpikir sendiri!!
Ah ya, laboratorium sosial itu adalah kenyataan. Tidak dihitung dengan angka-angka. Lantas dengan apa?
Sekali lagi inilah yang menjadikanku mencintai dinasti Shun Go Kong. Tidak menjadikan berbeda, tetapi tak sama. Berbeda tapi sama. Sama-sama tahu, berbeda untuk bersama. Bhineka tunggal ika.
Aku tersentak dari pikiran kecilku sebagai Plato, kini dibesarkan Kant. Tapi aku tetap memangang prinsip satu kalimat di selembar kain yang selalu dicengkram cakar Garuda di buku PPKn.
Dipenghujung 2001, September kelabu menjadi narasi duka media massa. Dua gedung di Amerika Serikat dihancurkan. World Trade Center ditubruk pesawat yang katanya dibajak. Muslim tersangkanya. Kata teroris melekat di Islam.
Bukankah selama ini baik-baik saja, tiba-tiba…kenapa jadi seperti ini?
Bersamaan dengan itu, hasrat laki-lakiku meletup-letup kecil. Aku tertarik pada seorang gadis. Hal ini tak bisa dipikir berlogika. Tiba-tiba jadi seperti ini. Ya sudah, aku mencintai dia rupanya.
Aku berdansa dengan dua getaran yang menyita keterbatasan, diri dan cinta.
Ada dunia dimana kita memikirkan diri sendiri, dan diri untuk dunia. Skalanya hanya mikromili jika disandingkan ukuran semesta. Saat itulah manusia menghadapi dilema. Tapi kebanyakan dari kita menisbikan semua dengan patokan realita, cukup mengejar impian, menjadi rata-rata.
Aku pernah mengenal semangat juang 45. Jika dilukiskan dengan kata-kata, bisa dibaca dari karya sastrawan angkatan 45. Saat itu aku berperang untuk memerdekakan persepsi umum dari penjajahan berita. Media massa yang menjadi delman rezim yang tumbang beberapa waktu lalu, yang katanya sudah liar kembali, ternyata tertangkap oleh tuan dari rezim tersebut.
Sebenarnya gampang saja bagi si tuan untuk mengenal kuda itu. Si tuan sudah padai informatika, dengan satelitnya terpantaulah semua. Aku dan kawan-kawan membentuk barisan santai di pinggir koridor pesantren untuk merumuskan perjuangan dan sepucuk surat pernyataan perang kepada media massa. Nanti akan dikirimkan melalui merpati bernama Simpati atau IM3. Kita-kita baru saja punya kendaraan itu.
Kita lupa, kalau kendaraan tidak bisa berbicara dengan sesama kendaraan.
Pesantren dipandang sebagai potensi untuk terjadinya kejadian September kelabu lainnya. Kita ingin berjuang untuk memerdekakan persepsi sempit masyarakat. Pada diskusi yang keseratuskalinya, gadis itu menampakkan muka. Ah, lagi-lagi dia…
Betapa desir-desir rasa itu mengalahkan semangat juang Mohammad Yaminku. Mata ini mencuri-curi pandang sosoknya. Lamat-lamat aku membisikkan cantik-cinta, cantik-cinta, sampai menggelegar. Aku cinta kamu!!!!
Telunjuk kanan bekerja sebagaimana namanya, tepat diarahkan ke hidung dia. Aku tidak dapat menguasai diri sampai aku bisa mendengar jelas sorak sorai asyik berada di sekelilingku.
Aku pingsan.
Aku terbangun.
Ba’da maghrib di ruang tengah rumah kiai.
Syukur, aku bukan dikerumuni CIA. Mereka kawan-kawan yang duduk di sampingku sewaktu diskusi. Pak Kiai tampak di belakang kerumunan badanku sedang menghisap rokok. Bibirnya mengepulkan asap nikmat. Dari belakang Ibu Kiai membawakan gelas dan teko emas. Kiai memerintahkan kerumun agar menyingkap ruang untuk istrinya. Semua meminggir.
“Cuu…cu, sadar?” maksud Bu Kiai cucu, sembari tersenyum memanjakanku.
Aku hanya membalas senyum dan memaksa bangun menyambut gelas yang diminumkan beliau. Beberapa dari kawanku cekikikan. Tapi tak kupedulikan. Pak Kiai meliriknya, memberi isyarat supaya mereka diam.
Pak Kiai tampak bercakap dengan santri seniorku. Kemudian dia pergi ke belakang sebentar, dan kembali bersama seorang gadis. Pak Kiai menyuruh gadis yang masih juga tertunduk duduk. Badanku gemetar hebat, aku yakin dia gadis yang aku cintai itu.
Aku tidak mengenal namanya, karena selama ini santri laki dan perempuan dihijiab secara ruang. Sehingga hampir tidak pernah bercengkrama mengenal betul. Tentu itu tidak berarti tidak pernah melihat sama sekali. Aku sering melihatnya ketika menuju mesjid atau hendak berangkat sekolah.
Sudah menjadi tradisi bagi santri laki mencuri-curi pandang satri perempuan ketika ada kesempatan. Tapi santri perempuan sama sekali tidak pernah bercengkrama di dalam lingkungan pesantren. Paling memungkinkan di luar. Itu pun santri perempuan masih hebat bisa menjaga informasi dari pertanyaan-pertanyaan tidak penting yang selalu dilontarkan laki-laki.
Jika kebiasaan memang seperti itu, apa arti sebuah informasi? Apa arti sebuah ruang?
Aku tidak sempat memikirkannya lebih jauh. Saat ini semuanya tidak tersekat dalam sidang kecil tidak formal ini. Semua cemas meski seringnya terlintas konyol.
“Waz.. namamu Juwaz?” Suara Pak Kiai menujuku searah dengan posisinya yang berhadap-hadapan padaku.
“Betul Pak Haji..”
“Antum masih ingat terakhir sore tadi?”
“Betul Pak Kiai. Ingat betul..”
Pak Kiai menoleh ke samping memperhatikan satu per satu muka kawan-kawan. Beliau lantas berceramah sebentar tentang ihwal perempuan dan laki-laki. Aku sudah hafal tentang itu. Dan semua sudah hafal.
“Perempuan..” Katanya sembari mengangkat tangan kanan sejajar bahu orang duduk bersila, kemudian dijentikkan ke arah gadis yang tertunduk. “Adalah makhluk yang harus dihormati. Dia adalah Ibu bagi seorang anak kelak. Jika kita menginginkan sebuah jalinan menuju rumah tangga, itu sangat diperbolehkan. Dan itu pun bagian dari sunah.”
Pak Kiai menyela menghisap rokok.
“Adalah manusiawi jika laki-laki menyatakan elok bagi perempuan. Karena perempuan adalah salah satu hal cantik di dunia ini.” Pak Kiai melenggokkan nada bicaranya. “Hanya, jika saat ini hal yang disebut sebagai cinta yang kita persepsikan kepada perempuan sudah dicemari oleh kebiasaan kita menonton televisi, itu artinya apa? Nadanya kini tegas.
“Adalah kotoran hasrat yang semakin dini anak-anak muda menganggapnya sebagai kewajaran!!” Suaranya mengancam, entah kepada siapa. “Ini buktinya!!”
“Dia..” Sembari telunjuk beliau menuju gadis yang menunduk. “Telah dihinakan keakuan serapah Juwaz.” Muka Pak Kiai sekarang menatapku tajam.
“Dengan lantangnya seolah dia sudah bisa mempertanggungjawabkan perkataannya.” Seorang muslim yang baik adalah.. bla…bla…bla.. aku sudah tidak memperhatikan ucapan Pak Kiai lagi. Aku pingsan lagi..
Aku terkaget menerawang masa lalu yang indah, ketika bunyi alarm jam kerja buruh tambang usai. Aku kini adalah polisi patroli yang bertugas di Irian Jaya. Tepatnya di perusahaan tambang emas milik orang asing. Sekarang, apa yang bisa kubanggakan. Semua sudah hilang, cinta dan cita-cita Plato kecil itu…










