10.11.09

Mulut Lebar

Posted in Puisi tagged at 1:38 am by Jajang Habib

Setiap saat dapat mengeluarkan kata-kata sekali jadi bahkan yang tampak adalah untaian kalimat tak berguna hingga tak bisa dipahami sebagai makna dalam nuansa yang kehilangan gairah untuk dihiraukan begitu saja dengan mata yang menatap namun dikaburkan lamunan masing-masing dan kepala yang condong ke hadapan yang tepat tetapi demi menyimak pembicaraan di samping dan ruang kehilangan frekuensi diantara otak-otak yang sama-sama mengalirkan energi komunikasi sampai semua yang ada bisa terekam namun tak menjadi perhatian di situ mulailah kepintaran yang ada menuai sebisa mungkin meredakan kata-kata yang berkeliaran di sekitar bagaimana pun caranya namun perdebatan yang tak mendapat tempat bagus daripada disebut kekeliruan masa lalu orang ketika kemarin memiliki harapan tetapi tak untuk dilakukan karena berada pada diri mengiyakan kebutuhan keberadaan untuk diakui tutup namun tak menjadi arti sampai dikatakan tanggung jawab sadar yang tak harus menjadikan keadaan mempersalahkan orang lain dalam kondisinya yang telah dibicarakan dengan orang lain karena mempunyai kesempatan dalam tempat yang tak bisa dijarakkan yang dianggap nilai keuntungan yang bisa memperkuat uji coba kepandaian membuat alur dan logika hubungan yang ditafsirkan secara umum budaya dalam sebuah lingkup paling mikro masyarakat bahwa aku bukan objek dari kamu karena predikat sudah menciptakan keberadaan antara-antara begitu hebatnya tanpa disadari tapi diakui memang begitu adanya jika memang menelan keterangan yang disebarkan dalam paham yang terjalin menitikberatkan pengalaman yang sebelumnya hadir supaya dapat membentuk sikap sama terhadap yang baru dalam gerakan intoleran masyarakat tanpa objek-subjek tanpa menghembuskan penyimpangan-penyimpangan berkata benci maka hentikan.

10.09.09

Saluran Limbah Mempet Karena Celana Dalam dan Kondom

Posted in Sosial tagged , , , , at 2:28 pm by Jajang Habib


Gang Kutilang yang luasnya kira-kira muat satu mobil pick up, biasanya lebih sering dilalui sepeda motor dan pejalan kaki. Gang itu cukup ramai karena menghubungkan kompleks kos-kosan di daerah Madrani dan tembusan dari Jalan Kampus menuju jalan Cendrawasih.

Dari jalan Cendrawasih, terhubung ke arah utara menuju kembali ke jalan Kampus, sementara ke arah sebaliknya terhubung ke jalan Gunung Muria. Kedua jalan yang dihubungkan oleh jalan Cendrawasih tersebut tidak lain adalah jalan melingkar yang menghubungkan kampus depan Unsoed yang terdiri dari fakultas sosial dengan kampus belakangnya, fakultas eksak.

Kampus Unsoed memang tersebar dan terpisahkan pemukiman. Namun mayoritas bukan lagi penduduk pribumi yang mendiami daerah tersebut. Lebih banyak dari mereka telah mengalihkan nilai guna rumah sebagai tempat tinggal keluarga menjadi ladang usaha dari kos-kosan mahasiswa. Wajar saja jika tipikal daerah Grendeng yang dahulu merupakan desa dengan mata pencaharian penduduknya dari bertani, menghasilkan beras grendeng yang terkenal pulen, kini disulap menjadi kawasan yang bertata guna mendukung penyelenggaraan Pendidikan Tinggi Negeri Unsoed.

Beberapa hari lalu saya bersengaja mendatangi teman saya yang tinggal di gang Kutilang, sekedar bersilaturahmi, karena memang masih suasana lebaran. Itu hari masih gerimis, namun saya sengaja tidak mengenakan payung karena sempat saya lihat bulan tiga perempat purnama sebentar muncul dari balik awan pekat. Di belokan dari jalan Cendrawasih ke gang Kutilang saya mesti sadar diri jalan mepet-mepet, karena sepeda motor yang melaju menepi menyimpratkan genangan. Jalan itu memang sudah diaspal cukup baik namun tepiannya masih tanah kering. Jika musim penghujan, beberapa kontur yang cekung leluasa menahan air. Jika musim kemarau, jadi mendebu.

Cukup lama saya bisa menembus gerungan motor yang tersendat antrian meneruskan lalu motor di depannya. Kosan teman saya hanya berselang beberapa blok lagi, namun saya tidak bisa melewati rentetan motor kemudian. Mereka tidak memberi jarak luang. Sehingga kalau saya memaksa ingin melewatinya, saya mesti menyebrang setelah motor di rentetan terakhir. Sudahlah saya menepi ke warung makan kecil memesan mie rebus. Laper gila!!

Makan cepat saya kira-kira 7 menit, tapi karena bikin mie rebusnya 10 menit, jadi deh saya sudah melalui waktu 17 menit hanya buat makan mie rebus. Keluar dari warung makan, jalanan sudah lenggang. Sementara saya masih mematung berkonsentrasi dengan jigong yang nempel di gigi. Rasa-rasanya, yang nempel serpihan sayur. Di bagian graham sebelah kiri, barang lembut-lembut gitu tercongkel lidah, hmm ternyata kuning telor rebus setengah matang masih nyisa.

Ketika kepala saya ditengokkan ke kiri, Pak RW, bapaknya tukang warung makan, tengah memperhatikan polah saya. Sontak saya sunggingkan senyum, dan dibalasnya. “Gondrong koh sekarang..”

“Ahaha..nunggu lulus, kalo lulus saya pangkas abis..”

“Kayak seniman saja, kenapa ga diiket?”

“Yaahh, seniman!! Mirip gembel kali, Pak..”

“Terima jadi saja, Bapak liat kamu rapi..hehe”

“Waa malah bapak yang mirip seniman pakai topi copet itu.” Timpal saya sembari memandangbagian kepalanya Pak RW.

“Hahaha..”

“Hahaha… Eh ini, anu, itu apaan Pak, ditaro di jalan?”

“Abis biongkar spal.”

“What, ngapail bongkar aspal?”

“s e p a l… saluran pembuangan air limbah..!!”

“Oh, SPAL..”

“Iya sepal Kutilang, ini kan memanjang sampai sungai yang di ujung gang Kutilang ini.”

“Napa dibongkar?”

“Mempet..” Lanjutnya sambil terkekeh.

“Napa mempet?

“Ada yang nyangkut..”

“Apa yang nyangkut?”

Sambil mendekat, lalu dia menepuk pundak saya. “Mempet..”

“Apa yang mempet??”

“Anu daleman..” Bisiknya sambil menyunggingkan bibir, giginya yang kuning tampak rapi terlihat.

“Ahahaha..bisanya, Beh..??”

“Lha tu dia.. ini yang kedua kalinya, dulu yang nyangkut kondom!!”

“Segede apa sih celana dalem ama kondomnya??”

“Yaaahh ga gede-gede amat Mas.. Cuma celana dalemnya kemaren yang nyangkut 5, dulu kondom nyangkut 7..”

“Kirain…”

Siapa yang sudah membuang kondom sama celana dalem ke cubluk tempat boker? Pak RW dan saya tidak tahuh, dan tidak mahu suhudhon. Kemungkinan perbuatan tersebut untuk menghilang jejakkan hubungan badan yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Sepertinya kelakuan demikian karena memang belum memenuhi syarat legal hubungan kelamin.

Lantas apakah hubungan kelamin hanya boleh dilakukan setelah memenuhi aturan di hukum negara, terlebih agama? Karena apa mereka yang belum punya syarat legal, ngebet pengen intim-intiman sama pasangannya?

Eh selagi saya menulis ini, di kosan saya sedang mendengarkan akad nikah kawinan tetangga saya di jalan Gunung Slamet. Saya catet saja ya beberapa syarat di perkawinan, nih.. 1) Suami harus mampu menafkahi istri. 2) Tidak boleh meninggalkan istri dalam dua tahun. 3) Tidak boleh saling menyakiti. 4) Tidak boleh membiarkan tidak memperdulikan.

Nah tuh, yang intim-intiman sebelum mampu memenuhi syarat di atas yang lumayan ribet n berat di atas, enak bener yaa??!

Next page