02.10.08

Harus Skeptis terhadap Sosok Calon Pahlawan!

Posted in Sosial at 5:56 am by Jajang Habib

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pahlawan, sebuah bangsa hendaknya skeptis atas kebenaran sejarah. Layaknya penelusuran delik hukum, deskripsi aktor-aktor sejarah harus cukup bukti dan kesaksian. Kalau terbukti berjasa bagi bangsa dan negara, maka pantas disebut pahlawan. Kalau ternyata tidak terbukti, apalagi perbuatannya anomali bagi kebangsaan, maka harus diusut ke pengadilan.

 

Menyikapi sosok Soeharto sebagai aktor penting negeri ini semasa hidupnya, pantaskah kalau mengiringi kepergiannya dianugerahi gelar pahlawan? Bagi beliau, gelar dunia apapun sudah tidak bermanfaat. Tetapi bagi bangsa ini, penganugerahan gelar pahlawan akan sangat berarti pada keniscayaan kebangsaan.

 

Terapkanlah sikap skeptis, jangan sampai di kemudian hari kebenaran sejarah tidak jauh berbeda dengan keyakinan mitos. Tentu kekuatan hukum negeri ini sama dengan aturan metafisis. Menjadi paradoks, ketika perbuatan baik dianggap cela sedangkan sebuah cela, kemuliaan yang tiada tara. Apalagi sampai harus dinisbatkan sebuah tanda jasa.

 

Jasa Soeharto sebagai panglima perang hingga menjadi Bapak Pembangunan Indonesia, masih menjadi perdebatan. Analoginya, seekor kambing yang menghabiskan satu padang rumput yang kemudian sebagian padang rumput subur kembali. Tetapi sebagian besar menjadi tandus tanpa muntahan tahi dan kencing sang kambing. Karena rumput sejajar lumut, maka padang tampak senantiasa subur oleh sang kambing.

 

Sayang, tidak ada yang bisa menilai perbuatan kambing oleh kambing. Sedangkan alam manusia lengkap dengan norma, aturan dan hukum. Seseorang pantas dikatakan berjasa bagi sebuah keajegan hidup bersama, tidak untuk diirinya sendiri dan tidak juga untuk golongannya.

 

Demi nasionalisme, tentunya gelar pahlawan sangat dibutuhkan sebagai tauladan. Sosok pahlawan seperti tanpa cacat. Kalaupun fitrah manusia tidak pernah terlepas dari kesalahan, tentu kesalahan itu bukan kesalahan yang dibuat-buat dan terus-menerus dilakukan.

 

Kita ingat bagaimana sosok Iwan Fals sebagai pahlawan Asia versi majalah Times tahun 2000-an. Hanya karena konsisten memperjuangkan anti kemapanan, kemiskinan, politik kotor, dan mengutuk perang melalui karya-karya musiknya. Termasuk melawan kebiadaban dan ketidakadilan rezim Soeharto dalam lagu Pak Tua.

 

Sungguh mengherankan, apabila saat ini bangsa kita ingin menghormati jasa mantan presiden Soeharto karena baru beberapa hari meninggal. Hanya karena alasan kemanusiaan, itu belum cukup. Padahal status sampai sebelum meninggalnya-pun terpidana.

 

Kalaupun status terpidana terhapus karena hilangnya nyawa, tuntaskan juga embel-embel kesimpangsiuran sosok Soeharto. Jangan terburu-buru, sekali lagi. Gelar pahlawan apapun yang akan melekat pada Sang Jenderal besar itu, harus terbukti terlebih dahulu proporsi kebaikan dan kejahatan semasa hidupnya.

 

1 Comment »

  1. lintar said,

    saya sangat setuju dengan pendapat kawan, bahwa kata pahlawan dinisbatkan untuk mereka yang berjuang demi orang lain yang lemah, bukan untuk penindas kebebasan.


Leave a Comment