02.17.08

Diversifikasi Minat Kuliah

Posted in Sosial at 7:41 am by Jajang Habib

Data BPS setiap tahunnya menunjukkan angka pengangguran yang semakin meningkat. Hal tersebut bukanlah permasalahan baru di negeri ini. Namun karena terus menumpuk, lambat laun menjadi kronis. Anehnya, lulusan perguruan tinggi pun masih dinyatakan tidak siap pakai di lapangan kerja. Dari sekitar 5 juta lulusan pendidikan tinggi setiap tahunnya, angka pengangguran dapat ditemukan sebanyak 11-12 persen.

Fatalistis melihat lulusan perguruan tinggi tidak tertampung di dunia pekerjaan. Gelar kesarjanaan seolah tidak ada artinya. Padahal dengan mengenyam pendidikan tinggi, seseorang diharapkan dapat lebih beradaptatif, cepat tanggap dan peka dalam kehidupan bermasyarakat. Maka kesiapan dan kesempatan kerja akan lebih terbuka. Berdasar paradigma pembangunan modern, dipercaya bahwa pendidikan mampu menjaga kondisi sosial-ekonomi tetap dinamis.

Oleh karena itu penting untuk diverifikasi berkenaan Human Development Index lulusan perguruan tinggi. Dengan jumlah mahasiswa yang setiap tahunnya membludak, membuktikan bahwa masyarakat semakin responsif terhadap pendidikan. Meskipun demikian, membludaknya peserta pendidikan menumpuk pada salah satu jurusan yang paling terkenal dan menjanjikan. Tak pelak perguruan tinggi pun keteteran dengan fasilitas dan tenaga pengajar yang tersedia. Sedangkan jurusan dengan peminat sedikit, lambat laun dianggap kurang berfungsi bahkan ditutup atau dibubarkan.

Tanpa disadari lembaga pendidikan hanya menjadi sektor usaha jasa pendidikan. Akibatnya terjadi kelebihan lulusan dengan kapasitas keilmuan yang sama. Dapat dikatakan terjadi banalitas pendidikan. Pantas, banyak sarjana yang menganggur.

Lebih memprihatikan lagi apabila sarjana tersebut dipaksakan bekerja pada bidang yang tidak dikuasainya, sekedar untuk menanggulangi pengangguran. Padahal kemajuan pembangunan dituntut sebuah kesesuaian penempatan manusianya, the right man in the right place and right time.

Menyelesaian dua permasalahan tersebut dapat secara simultan diselesaikan. Penanggulangan sarjana menganggur harus dimulai dari tindakan preventif. Lembaga pendidikan tinggi seyogyanya dapat memacu diversifikasi minat masyarakat dalam memilih konsentrasi keilmuan (program studi/jurusan). Dengan efektifitas kuantitas peserta didik, kualitas lulusannya pun diharapkan dapat lebih baik. Tanpa harus melakukan pembubaran salah satu jurusan, perguruan tinggi dapat menciptakan sarjana dengan kapasitas keilmuan yang berbeda-beda untuk memenuhi bidang pekerjaan yang masih belum terpenuhi.

Leave a Comment