03.29.08

Tata Ruang Wilayah untuk Kawasan Pendidikan

Posted in Sosial at 4:29 am by Jajang Habib

Apa yang akan terjadi apabila nalar pemuda-pemudi Indonesia terkonstruksi dengan kebiasaan konsumtif???

Adalah Unsoed salah satu PTN di Indonesia, yang terletak di Purwokerto, ibu kota Kabupaten Banyumas-Jawa Tengah bagian selatan. Secara geografis letaknya berada di Pedesaan, Gunung Slamet bertengger kokoh merupakan panorama indah yang bisa disaksikan. Sekaligus menjadi pembatas dengan daerah Pemalang. Udaranya sejuk, sehingga tidak salah ‘Gang Sadar’ menarik para peminat (over seks) kelamin, untuk mengasah pedang warisan nenek moyangnya di sana.

Adapun Unsoed terletak pada jalur ke Baturaden, jumlah mahasiswanya kini mencapai 25.000 orang dengan jumlah dosen serta karyawan mencapai 10.000 orang. Di mata Nasional, Unsoed cukup terkenal, yang mengundang banyak mahasiswa pendatang untuk sekolah. Baik dari Aceh, Jakarta, Bandung, Rangkas Blitung, Kalimantan bahkan Nusa Tenggara.

Meski demikian, banyak mahasiswa yang menyayangkan atau sedikit kecewa dengan fasilitas yang ada di Purwokerto. Beberapa mahasiswa mengatakan bahwa hidup di Purwokerto serasa monoton, karena tidak ada tempat nongkrong yang banyak, itu-itu saja. Terlebih mahasiswa yang berasal dari kota besar seperti Jakarta, pasti merindukan keriuhan mall dengan berbagai jenis manusia. Tentunya makhluk Tuhan yang seksi yang sering di kecengin.

Ada kemungkinan kondisi demikian akan berubah 2 atau 3 tahun ke depan. Saat ini tengah dibangun komplek pertokoan dan rekreasi Purwokerto City Walk, bersebrangan tepat dengan institusi PTN Unsoed tersebut.

Hal ini sama sekali bukan kabar gembira bagi mahasiswa Unsoed. Terbukti dengan hasil penelitian yang saya lakukan mengenai respon mahasiswa (hasil lebih lanjut dapat menghubungi penulis). Penelitian dilakukan terhadap 180 responden (mengacu pada kelayakan sampel Krejcie dan Morgan, 1970). Diperoleh hasil bahwa mahasiswa Unsoed menilai (memprediksikan) akan terjadi tingkat konsumtif yang tinggi, di samping itu akan terjadi penurunan budaya akademik bagi civitas akademika Unsoed apabila PCW benar-benar melaksanakan operasional usahanya. Anehnya, pihak PCW sama sekali tidak melakukan penelitian mengenai hal ini, terbukti dari laporan KPPI Kab. Banyumas–mengacu pada executive summary AMDAL PCW–bahwa tahap pasca operasional tidak diprediksi.

Paradoksal dengan pendapat mahasiswa tersebut, di satu sisi menginginkan tempat rekreasi baru namun menolak adanya rencana pembangunan tersebut.

Penelitian yang saya lakukan juga mengungkap hal tersebut melalui pertanyaan terbuka terhadap seluruh responden. Ternyata yang menjadi permasalahan adalah letak PCW yang bersebrangan dengan kampus. Mahasiswa menyatakan tidak setuju mengenai hal tersebut.

Setelah melakukan jajak pendapat lebih lanjut terhadap mahasiswa, secara umum mereka menyatakan, “Memang kami membutuhkan sarana rekreasi yang baru, akan tetapi kalau dekat dengan kampus pasti menggangu kami.”

Jelas kiranya kenapa pembangunan PCW menjadi permasalahan.

Seperti halnya mahasiswa, pihak Rektorat pun menolak pembangunan PCW, yang dibuktikan dengan tidak memberikan izin (tetangga) terhadap PCW yang merupakan salah satu syarat IMB.

Permasalahan tersebut tidak akan terjadi seandainya Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) di Indonesia khususnya Banyumas, dibuat secara terarah dan memperhatikan pembangunan yang terencana. sehingga tidak tumpang tindih. Seyogyanya Pemerintahan Kabupaten Banyumas segera menyelesaikan kasus tersebut.

Permasalahan ini sepatutnya pula mendapatkan respon dari Dikti maupun pemerintah pusat.

03.28.08

Di mana Objektivitasmu Juri ???

Posted in Curhat at 2:28 pm by Jajang Habib

Kemarin saya kecewa dengan dosen sendiri. Tanpa mengurangi rasa hormat, alangkah baiknya bila Anda tidak setuju dengan hasil dalam tulisan saya, maka bukan dengan cara mematikan anda sendiri dengan memutarbalikan teori yang sebenarnya tidak pernah tertulis dalam literatur manapun. Maka dari itu saya masih bertanya, betapa tidak berharganya jerit usaha mahasiswa Anda ini, segala usaha tidak bisa diganti dengan materi, akan tetapi pengakuan kelayakan penelitian yang saya harapkan.

Saya menantikan Anda membalas tulisan ini, mudah-mudahan Anda menyadari maksud saya…dan anda terbuka untuk berdiskusi perihal hasil yang telah anda saksikan sewaktu memberikan penilaian… Terima kasih kepada salah satu dari Amda, atas perkataan terakhir yang sempat terucap sebelum forum itu bubar…

Saya memberikan sedikit syair dari lagunnya Iwan Fals.

Di mana…

Sempat aku goyah, sekejap terjatuh
di dalam arungi perjalanan
Pada kelam hari, aku pun bersujud
dan mati semuanya tanpa tanya

Ku coba selami, dalamnya samudra
di bumi gelombang terjang karang
betapa tak dapat, apa yang kumau
hanya bimbang yang singgah dera jiwa

Getar hati, benar semakin selimuti…

Di mana senyummu yang sanggup memberi rasa damai
Di mana belaimu yang hangatkan nadiku yang beku,

Hampir ku tak kuat, hampir ku tak mampu
Lewati jalan kering berdebu
Dahaga meronta, letihku menggila
Namun jarak masihlah teramat jauh

Batinku terapung, usah ku melangkah
atau tetap saja tak bergeming
Otakku berdera, lontarkan kecewa
tak mau percaya yang kau janjikan

Pada waktu detak jantung semakin mengendur

Di mana senyummu yang mampu memberi rasa damai
Di mana belaimu yang hangatkan nadiku yang beku

Next page