05.31.08

Reason to Believe

Posted in Puisi at 12:03 pm by Jajang Habib

Biarkan, air mata itu mencari linangnya.

Tak usah seseorang kan menyeka. Pada yang demikian itu ada ketakutan, keharuan menjadi sayang. Gemulai perkataan senantiasa membungkus segalanya menjadi baik.

Biarpun tak kau sanggah menyetujuinya, tak lain sebuah ironi. Pada awalnya ketidaktahuan, kemudian membelakangi ketahuan dengan yakin. Tidakkah lebih baik membiarkan seperti adanya?

Maka, air mata itu menjadi saksi perasaan, tak satu jua pun menandingi ketulusan mengalirnya. Sebab hujan masih disangkal pawang, sedang cinta adalah turunnya sayang. Membiarkan sesuatu apa adanya, tak ada yang membendungnya. Karena cinta adalah laku yang paling sederhana, maka biarkan air mata itu sebagai kecintaan.

Karena pada waktunya nanti, setiap sesuatu pun akan meninggalkan.

Hanya perasaan yang sama senantiasa menemani, terkadang mendera memori. Pun tak pantas kau hapus dalam pelupaan. Membekas bukan rekaman, sehingga sadar bahwa itulah kehidupan.

Berlalu dan menagislah jika itu penyelesaian. Tapi kau tak bisa lari dari kenyataan, setelah kebahagiaan ada kesedihan, dan akan begitu hingga pertemuan. Rindukanlah dirinya yang kau sanggah dalam kenyataan.

Pada kerinduan yang menjebak pada kekosongan, tak lain tabir yang tersingkap. Siapalah kau ini sebenarnya. Begitu rapuh, dan kau tidak menemukan sosok itu pada jiwamu.

Ada belahan hati yang tak dimilikinya. Untuk itulah manusia dilahirkan berbeda-beda, dan cinta tidak tumbuh dalam persamaan.

Carilah ke manapun, kau hanya perlu menuntun pandangan pada ketulusan. Hati yang terpisah akan mempersatukan. Tanpa kau sadari, jarak itu akan memelukkan, menciumkan kehampaan sanubari.

Sampai kau menyadari bahwa cinta tak lain adalah kehangatan. Dan punya alasan untuk mempercayainya.

05.28.08

Sore yang Membekas

Posted in Curhat at 4:06 pm by Jajang Habib

Perbincangan sewaktu berjalan sore tadi bersama Fikri, cukup menggugah. Awalnya ketemu di mesjid sewaktu mau sholat ashar. Karena listrik di daerah Purwokerto Utara padam sampai pukul empat, sehingga di masjid Baitul Ma’tsur Fakultas Ekonomi stock airnya habis. Terpaksa mencari masjid yang masih cukup persediaan airnya, dapat deh di masjid Fakultas Hukum. Selesai solat, beberapa anak hukum yang mau kuliah tambahan asyik membicarakan mata kuliah, termasuk jadwal yang digeser-geser bikin repot. Beberapa dari mereka aku kenali, sempat juga bertegur sapa menanyakan aktivitas masing-masing, pasalnya sudah lama tidak bercengkrama.

Fikri yang terakhir keluar dari mesjid. Tak lama kami pun beranjak menuju fakultas ekonomi. Fikri mau kumpul sama anak-anak Sasmi di basemen, sedang aku mau mengikuti rapat tematik buklet di sekre Memi. Langkah kami santai, kalau tidak dibilang gontai. Tapi gak kayak si bencong tulang lunak, lunglai.

Langkah pertama diawali dengan nada-nada bercanda. Sempet nyindir-nyindir masalah pacar, karena aku yang mengawali nanyain pacarnya fikri yaitu kakaknya teman kosku dulu, sama-sama anak tasik. Jadi gak kagok karena udah kenal. Ujung-ujungnya dia malah balik nanya statusku, emang masuk kriteria di KTP ya? Hehe… Jelas aku terkekeh setiap kali ada orang yang menanyakan itu, entah kenapa lucu aja. Penjelasanku tak cukup sampai disitu, aku coba memaparkan apologi pembelaan. Kalau tidak dijelaskan, takutnya aku dibilang homo, haha… Bukan cuma itu, kaget juga sih, karena dia tau aku sejak semester satu belum punya pacar. Belakangan dia pun tahu kalau aku tidak pernah pacaran sama sekali seumur hidup. Akhir-akhir ini, masalah itu juga yang sering dilontarkan sama teman-teman, ya di kelas, kampus, testi friendster, yang selundup-selundupan masuk message, serangan bertubi-tubi itu menyebabkan aku membuka alasan sebenarnya.

Dengan enteng aku jelaskan sama Fikri, pacaran itu kepingin ada yang merhatiin, dan sama-sama pengen saling merhatiin. Padahal, apa susahnya ngurusin badan sendiri. Gitu aja kok repot. Hehe… Aku belajar menghargai service aku sendiri. Dunia ini terlalu muluk-muluk untuk sekedar bersayang rindu pada hal-hal yang kurang penting. Dia tersontak, lalu membalasku dengan tatapan yang agak tajam. Sempat kuperhatikan, kukira dia tersinggung. Aku lanjutkan saja perkataanku yang belum selesai. Tapi, iya juga sih, kadang perasaan seperti itu muncul menggebu dan melenakan kesendirian yang membutuhkan perhatian. Aku tak memungkirinya. Kalau kata iwan fals dalam lagu iya atau tidak, “tak aku pungkiri aku suka wanita, sebab aku laki-laki. Masak suka pria. Kalau kau kuras isi dadaku pasti ada kamu di situ… “hehe… Fikri menatapku selidik.

Tak lama ia menimpali dengan nada agak serak. Sedikit berdehem dia melanjutkan maksudnya. Justru ketika melihat kamu aku terinspirasi dengan itu, ada yang bikin aku iri karenanya.

Apa? Aku kaget benar-benar. Masak sih? Aku sih santai aja, tapi kangen yang aku sebutkan tadi justru sering mengganggu. Entah bagaimana ceritanya, tapi kenyataannya aku tak bohemian seperti yang kamu kira. Aku menegaskan bahwa kita sama-sama bohemian (bebas seperti seniman), Fikri di seni musik, sedang aku hanya getol tulis-menulis, kalau masalah gonjrang-gonjreng nyanyi sudah lama aku tanggalkan sejak masuk Unsoed. Tukasku tak di balas.

Dia melanjutkan kata-katanya yang terpotong olehku. Kenapa tidak aku seperti itu. Tapi…

Kata-katanya terputus lagi. Aku timpal saja. Mungkin orang berbeda-beda menyikapi hidup, beruntung kamu tidak memiliki hal yang tak aku miliki. Sementara boleh saja kamu iri atas apa yang kamu lihat atasku. Tapi aku pun tak menyadarinya. Hanya orang lain yang pasti dapat menilainya.

Kali ini dia mulai membalas lebih serius dengan tanya. Apakah hal itu sudah kamu perhitungkan? Kamu memiliki targetan hidup gak? Sementara langkahnya semakin lambat, seolah menyadarkan bahwa kita harus berbicara ini panjang lebar.

Langkahku pun mengikuti dia, malah sempat ingin berhenti berjalan. Aku tertegun dalam kekosongan beberapa detik. Hanya kaget yang ada di kepala, cemas atas jawaban yang sangat prinsipil, yang aku sendiri tak tahu harus menjawab apa, bagaimana. Seperti biasa, dengan yakin aku jawab tidak. Hidup ini mengalir, easy going, ikuti saja ke mana aku menapakkan jejak ini.

Jangan begitu. Katanya.

Lha? Aku repot dengan nasihatnya yang cukup menghentak, tak percaya dia akan memberikan wejangan pasti membantu menyemangati hidup.

Senyum kecil mengiringi penjelasannya. Memang mengikuti jalan banyak dilakukan orang. Tapi itu sebuah kesalahan. Bagaimana kita harus bisa menargetkan sesuatu, misal kita ingin punya uang seratus ribu rupiah pada waktu tertentu karena kita pun akan membutuhkannya pada waktu selanjutnya, atau pada waktu itu juga. Nah, bikin targetan untuk itu, kalau tidak, bagaimana akan terpenuhi kebutuhan itu.

Bukankah rencana-rencana seringkali menjadi sesuatu yang menakut-nakuti hidup. Coba lihat, orang stress karena tidak mencapai keinginannya, hasratnya. Aku menukasnya cepat.

Tapi bagaimana bisa kamu menjadi yang seperti sekarang ini. Apakah itu dengan targetan?

Maksudnya? Aku membalas diiringi cengangas-cengenges, tersipuh. Spontanitas yang sering aku tunjukkin ketika aku sulit memahami diriku sendiri. Karena lebih tepat aku tak memiliki sesuatu yang patut aku banggakan selain aku masih bisa berinteraksi dengan orang-orang di mana aku menunjukkan diriku apa adanya.

Lah..jangan gitu jang..aku sebenarnya ingin sekali mencatat pengalaman-pengalaman sejak kecil yang aku pikir perlu untuk dituliskan. Bagaimana caranya? Fikri menyambung dengan sedikit mengapresiasi.

Tenggorokanku mendadak berat, sesuatu yang tak bisa aku terima. Sudahlah, aku tidak memiliki targetan hidup, dan itu tidak penting. Tapi apakah iya semuanya harus ditargetkan. Aku masih tidak percaya! Aku yang seperti ini karena aku banyak mencoba-coba saja. Dulu, seperti yang kamu ketahui, taun pertama banyak dihabiskan menjajaki ormas dan beberapa sekre. Tapi aku cabut dengan semuanya. Hanya satu yang tersisa, Memi.

Pembicaraan tidak komunikatif, saling memaksakan ingin bicara kekurangan masing-masing. Sementara langkah berhenti pada persimpangan jalan. Pembicaraan pun dilanjutkan dengan berdiri pada belokan itu karena memang belum tuntas.

Fik, aku juga sebenarnya salut sama kamu yang senantiasa calm. Dulu kamu bisa menjabat ketua Sasmi, dan sukses. Yang kulihat sekarang pun, tak kurang apa. Terlebih aku kaget dengan gaya penuturanmu yang hati-hati. Dewasa banget.

Fikri menimpali dengan gesit. Iya, orang-orang kayak kita ini memang orang yang santai, tapi aku sendiri tidak melupakan targetan. Coba kamu lebih terarah lagi. Targetan kuliahmu, kerja mau jadi apa, buat kamu bahagia. Apalagi target dapet cewek tuh..hehe..

Lah..itu lagi. Aku sedikit kecewa dengan yang terakhir. Kejujurannya membuat aku yakin, bahwa dia jujur dalam perbincangan dari masjid hukum tadi.

Dia memujiku karena aku bisa menulis. Tapi aku sangkal bahwa semua itu belum ada apa-apanya, aku hanya mencoba-coba saja. Belum tentu aku mahir benar. Semuanya itu tanpa targetan yang jelas, amburadul. Kalau mau lihat buka saja www.menapakihidup.wordpress.com, aku sedikit promosi biar ada yang mengkritisi coret-coretanku.

Dia membalasnya melalui sorot mata yang serius. Kemudian dia melanjutkan dengan nada yang sama. Pada bagian ini aku tidak mempublikasikannya secara jelas, kalimat yang keluar dari mulutnya begitu susah diingat, dan cukup membuat aku tersadar atas kelalaianku selama ini. Tapi sungguh, aku kagum dengan cara berfikirnya. Dia menjelaskan maksudnya itu dengan pengalamannya membaca buku Quantum Ikhlas, nama pengarangnya aku lupa, maklum orang barat.

Sampai selesai dia berkata aku hanya manggut-manggut dan membenarkan semua yang dikatakannya. Aku perlu menginsyafinya memang.

Dibeberkannya perencanaan itu seperti kita berorganisasi. Dia menjelaskannya cukup transparan. Kali ini pun aku mengiyakannya.

Pembicaraan berhenti karena aku tak dapat mengatakan apa-apa lagi. Hanya sempat aku memberikan solusi atas pertanyaannya tentang tulis-menulis. Bahwa menulis dianggap susah itu karena kita tidak menghadirkan sosok ketika menulis. Plato berujar dengan dianoia untuk menjajaki filsafatnya, artinya jiwa harus berbicara dengan badan. Jangan terjebak badan ngomong sendiri, sehingga tak ada yang menimpalinya. Dan semua itu hanya bermodalkan kebiasaan saja. Sedangkan aku hanya mencoba-coba tak karuan saja. Terima kasih tak lupa aku santunkan padanya dengan penuh hormat.

Dia pun membalas terima kasih sama-sama. Kami melepas perbincangan dengan menepuk pundak kami masing-masing.
Tulisan ini aku tulis pukul 20.00 sampai 22.20. Ada yang tak kulupa juga hari ini. Semakin heran aku dengan situasi di sekre Memi. Respon untuk berdiskusi dalam forum sama sekali tidak ada. Hanya beberapa saja yang mengeluarkan pendapat, tadinya aku akan memilih diam. Tapi ini rapat tematik yang akan menentukan produksi buklet Memi. Aku tak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Setidaknya aku memiliki tindakan agar teman-teman aktif mengeluarkan pendapat. Sampai adzan maghrib, situasi forum semakin tidak mengenakkan. Sama sekali tidak ada respon yang berarti, maka aku tanyakan, forum ingin bahas tema seperti apa. Apakah seperti metode tematik tahun lalu dengan menentukan langsung laput dan lapsusnya? Pertanyaanku lama tak di jawab. Kemudian dibalas tak usah back to basic seperti itu. Semua yang pernah kita bahas akan sia-sia kalau seperti itu. Ketika ditanya kenapa setiap diskusi kita selalu buntu, diakhiri diam-diaman. Aku menuturkannya tanpa kejengkelan sedikitpun, aneh. Apalagi marah, tidak terbesit dalam otakku sama sekali. Tapi suaraku memang keras, jadinya aku seperti sewot saja. Permasalahannya kenapa selalu tidak mengapresiasi setiap pembahasan yang akan menentukan pemahaman kita akan kampus dan persoalan negeri yang terlalu besar untuk kita benarkan, setidaknya kita mampu mengidentifikasikannya. Bukankah itu yang akan kita pertanggungjawabkan pada publik melalui tulisan-tulisan kita, sebagai bentuk pertanggungjawaban kita pula telah memanfaatkan fasilitas yang diberikan kampus.

Terngingang-ngingang dalam pikirku bagaimana Fikri mencontohkan perencanaan sangat penting dilakukan untuk kemajuan, tentang organisasi. Semuanya mesti tertib. Dan hal itu yang selalu aku coba tanamkan pada Memi, karena aku pun memiliki tanggung jawab di keredaksian untuk menjaga kualitas media. Maka kedisiplinan pemahaman teman-teman pada apa-apa yang hendak diterbitkan sangat enting, tidak bisa tidak harus serius. Setiap aku berbicara di forum, selalu yang aku tandaskan adalah bagaimana teman-teman dapat bertahan dengan kausalitas pembicaraan yang mungkin memancing perasaan tersindir, marah, atau chaos dengan pendapat itu sendiri. Pasalnya, dengan berleha-leha, sempat terjadi ketika orang lain mengkritisi produk anak magang (ekolistik) angkatanku. Tanpa bimbingan keredaksian secara terarah, maka hasilnya banyak menuai kritik pertanggungjawaban pelaksana pembuatan yang sangat tajam dari para pembacanya. Aku sangat merasakannya begitu memalukan, karena waktu itu pula aku seakan-akan mengerjakan PR teman-teman dengan menghandel pekerjaan yang seharusnya sesuai dengan posisi kepanitiaan. Tapi sayangnya tidak ada pula forum yang mengevaluasi atas kegagalan anak magang angkatanku. Padahal aku menginginkannya sebagai bentuk perbaikan diri.

Maka ketika aku menjadi pengurus, aku harus mencoba merubah kultur yang sudah terbentuk. Selama itu pula banyak perhatian yang tercurahkan untuk mempelajari merubah kondisi yang terbelenggu dengan kultur yang tidak disiplin. Sampai-sampai beberapa mata kuliah ketinggalan karena seringkali kecapekan dibuatnya. Sedikit nyambung dengan apa yang diusahakan fikri waktu itu, dia pun seperti itu.

Namun sayangnya, usaha yang aku lakukan tidak mendapat respon positif dari teman-teman. Agenda yang dikeluarkan redaksi ditanggapi sebagai beban yang sangat menjemukan, buktinya adalah tidak ada antusiasme dari teman-teman untuk mengikutinya. Malah beberapakali sempat terdengar sindiran halus dengan program redaksi yang semakin ketat. Padahal pernah suatu ketika di awal kepengurusan ingin menjadikan Memi menjadi lebih baik. Lihat, tim basket menjadi ekslusif dan dihormati orang lain karena memiliki prestasi. Siapapun tidak mudah masuk tim basket inti kalau tidak memiliki kemampuan yang tangguh, baik mental maupun skill. Begitu kira-kira perkataan salah satu teman yang meneguhkan untuk melakukan perubahan di Memi.

Hal itu aku sikapi dengan langkah kongkrit seperti yang dikemukakan di atas. Tapi apa yang terjadi, semakin susah teman-teman Memi untuk berkumpul berdiskusi, menambah wawasan dan rajin menulis. Memberatkan katanya. Lantas mau seperti apa?

Mendekati akhir pembahasan tematik sore ini, satu teman cabut duluan. Tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan untuk menghentikan pembicaraan. Aku hanya gelang-geleng kepala saja. Pendekatan kultural yang dilakukan sejak dulu tidak menciptakan ikatan kesadaran berorganisasi dan kemauan untuk membedah permasalahan secara tuntas. Malahan menciptakan kebiasaan yang tidak bersandar pada kebutuhan organisasi sebagaimana mestinya ingin memberdayakan diri bersama-sama dalam satu wadah, peningkatan kualitas, wawasan dan belajar bersama untuk berprestasi. Ternyata hanya melahirkan buah pertemanan saja. Maka dengan kejadian di sekre Memi sore ini, aku hanya dapat mengatakan, bahwa pendekatan pertemanan sangat rapuh, untuk tidak dikatakan mememiliki ikatan yang akan hancur di tengah jalan.

Semoga usaha yang dilakukan disertai niatan ikhlas untuk kebaikan bersama. Amin. Aku tidak mau menjadikan semuanya sebagai beban, tapi ada sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan dengan semua yang kita lakukan memanfaatkan fasilitas kegiatan kemahasiswaan. Ini sebuah konsekuensi memilih aktif berorganisasi. Dan, banyak yang harus dikompromikan tanpa harus kehilangan jati diri kita masing-masing. Itulah bentuk pertemanan yang dihasilkan dari organisasi, tanpa harus dipaksakan. Aku menyadari apa yang aku lakukan akan memberikan konsekuensi pula bagi diri saya sendiri. Selama aku dipercaya, maka percayalah. Kritisi jikalau salah, tentu dengan merasionalisasikannya. Tetapi kalau tidak, aku tahu apa yang mesti aku lakukan. Sampai jumpa besok.
Kalau aku tak dapat bersama orang lain, tidak ada gunanya selama ini berbenah diri. Tapi aku tahu, aku melakukan yang terbaik untuk kemanusiaan. Semua yang terjadi bertali kelindan dengan penerimaan, maka untuk apa berkoar tentang kebenaran kalau bersikukuh dengan egoisme. Aku tak tahu. Hanya saja, aku tersadarkan dalam mempelajarinya, bahwa di dunia ini terlalu banyak permasalahan yang terlalu penting untuk diacuhkan begitu saja. Siapa yang tahu kebusukan hati manusia?

Next page