07.30.08
Mikro Perbankan (Potret Tabungan Paguyuban Penarik Becak)
Hampir tak kukenali, sesaat tak sanggup aku menguasai keberadaan diri dalam forum sebagaimana biasanya. Setengah jam berlalu, mataku asyik memperhatikan Pak Hadi dan Mas Suroto menjumlahkan nominal uang dari buku tabungan bersampul biru. Beberapa kali kelakar terdengar, tiga kali rekap hitungan tetap saja tidak cocok, “Selisih spuluh ngewu terus kae…” dicobanya lagi. Temanku Firdaus yang duduk disamping Mas Suroto, penasaran dibuatnya. Tangan kirinya meraih tumpukan buku tabungan, sementara satunya memijit kalkulator teliti, menghitung jumlah kredit terakhir.
“Kie mesti ora salah, masak, mahasiswa mbok..” Ujar lelaki berkafiyah hitam disamping kiri Pak Hadi, sesaat Firdaus pun terkekeh, sumringah baru ditunjukkannya setelah tiga kali hasil perhitungannya tetap sama. “Kulo yakinlah Pak…iki konsisten Mas…”
Tak terasa duduk menyesaki ruang tengah rumah Bapak Hadi, diisi bapak-bapak yang satu per satu menghadiri acara rutin mereka. Dinding ruang mengarahkan pola mereka melingkar. Keramahan orang-orangnya kurasakan pada sapa dan peraduan salam, tangan yang saling mengapit terasa hangat menenangkan keberadaanku yang pasti asing bagi mereka. Aku pun menyadari keasingan tersendiri karena memang baru kali ini aku bergaul dengan mereka.
Hadir pula di sana Mas Suroto sebagai pembina, sedang Firdaus dan aku sendiri persisnya mahasiswa yang tengah mempelajari sosiologi dan ekonomi masyarakat an sich. Sangat jauh berbeda dengan pembelajaran di kampus, benar-benar riil.
Terlihat disiplin, rangkaian acara yang dibawakan perwakilan sekretaris tak kalah dengan workshop yang biasa aku jumpai di forum-forum ilmiah. Kata sambutan dari sang ketua dan pembina mengawali pertemuan malam ini, semarak forum sangat kental dengan persaudaraan dan kekeluargaan. “Resep pisan..” pikirku.
Tidak cukup sulit beradaptasi, sebagai anak rantau dan berbeda bahasa, karena aku dari Jawa Barat tidak menjadi alasan, toh aku sudah tiga tahun berada dalam masyarakat berbahasa Jawa. Keterbukaan mereka mempersilahkan Firdaus memperkenalkan diri, sekaligus memberi kesan. Giliranku, entah kenapa kata-kata seakan tersendat dikerongkongan. Hanya perasaan takjub, dan seperti itulah kata-kata yang menjadi kesan pertamaku berada diantara bapak-bapak yang profesinya sebagai penarik becak, biasanya mangkal di pertigaan jalan kampus Unsoed.
Paguyuban Perjaka, sebuah nama yang aneh mengingat para anggotanya tak lagi muda. Mungkin sudah pantas dipanggil mbah, namun keakraban mereka satu sama lain selayaknya anak muda. Semangat jiwa muda itulah yang mungkin identik dengan keperkasaan meraih cita-cita bersama, tak lekang ditelan usia.
Solidaritas ekonomi ditengah badai moneter menghantam kegiatan ekonomi riil terasa semakin menyesak. Accesable perbankan yang sulit diperoleh masyarakat memang perlu dicari jalan keluarnya. Tool moneter yang selama ini menjadi perkakas yang dipandang sebelah mata, koperasi, patut dilirik efektifitasnya.
Sejak 2 Mei 2007, paguyuban yang beranggotakan 20 orang mampu mengumpulkan uang senilai Rp. 2.026.250,00. Sedangkan bunga yang dikumpulkan sebesar 10% dari transaksi pinjaman kurang-lebihnya berjumlah Rp. 250.000,00 sampai pertemuan malam ini. Uang tersebut tentu akan dikembalikan secara berimbang berdasarkan keaktifan anggotanya apabila tutup buku.
Manajemen yang dilakukan mereka juga tidak muluk-muluk, kepengurusan dibentuk dari mereka sendiri, dibina oleh Mas Suroto yang memiliki kapasitas intelektual lebih, apalagi Mas Suroto konsen dalam perkoprasian sejak menjadi mahasiswa manajemen Unsoed. Dalam benakku jadi berfikir, apabila setiap mahasiswa, minimalnya organisasi mahasiswa mampu memberdayakan ekonomi rakyat seperti itu, akan terjadi percepatan kemandirian masyarakat dalam pengelolaan ekonominya.
Seperti ditunjukkan paguyuban ini, saat ini uang hanya mampu diputar diantara anggotanya. Tidak menutup kemungkinan apabila nominal uang telah mencapai jumlah tertentu akan dialokasikan pada kegiatan ekonomi yang produktif, sehingga mampu meningkatkan kas. Bahu-membahu untuk saling membantu, motif yang tertanam dalam penyelenggaraan koperasi.
Disela pembicaraan pengembangan organisasi, ketua Perjaka tak henti mengingatkan untuk waspada pada kemungkinan distorsi kemajuan. Pengalaman menjadi bijak untuk dijadikan pelajaran. Mungkin hanya itu modal mereka untuk menyelesaikan sekelumit permasalahan keseharian yang dihadapi.
Dari balik gorden terkembang yang menjadi pintu memisahkan dengan ruang dalam, makanan tersaji ditandoni piring, disuguhkan secara estapet bersamaan. Ternyata bukan hanya simpan-pinjam uang yang dilakukan mereka, sebagai bentuk keeratan, mereka menyelenggarakan arisan yang dikumpulkan setiap bulannya sebesar Rp. 3.000,00 per orang. Apabila dijumlahkan, setiap yang mendapat giliran akan menerima (ibaratnya) uang kaget sebesar Rp. 60.000,00.
Sungguh menakjubkan, apalagi jika setiap paguyuban becak yang ada di Purwokerto mau dan paham untuk menjalin kegiatan koperasi secara terpadu. Berapa banyak keringanan pemenuhan kebutuhan hidup dari penghasilan profesi yang (dapat digolongkan) termasuk kecil, akan tercipta? Disamping itu dapat dibayangkan, betapa efek positif integrasi sosial akan terjadi di tengah kondisi politik yang awut-awutan akibat persaingan kepemimpinan di tingkat atas?
Rupanya kita pun dapat membandingkan efektifitas upaya pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan melalui subsidi langsung tunai (SLT) dengan empowering masyarakat secara aktif oleh masyarakat itu sendiri. Pada pelaksanaan SLT menimbulkan kecemburuan sosial, bukan saja sesama kelompok ekonomi miskin, keluarga yang nyata-nyata golongan ekonomi menengah ke atas pun masih meliriknya. Heran bukan? Potret kecil Perjaka sekiranya mampu menjadi cermin bagi pola kebijakan ekonomi pembangunan, direvisi untuk menyesuaikan modal sosial yang dimiliki masyarakat Indonesia, yakni kekeluargaan dan persaudaraan. Keterpaduan ekonomi dan sosial itu dimiliki dan dapat dijalankan melalui sistem bernama koperasi.
Menjejak Nasionalisme dan Agama
Ekspresi tindakan manusia dipengaruhi besar dan dilandasi pemahaman realita yang dihadapi. Respon atau ihwal tindakan manusia sendiri tidak terlepas dari penggunaan sensorik biologis yang dimilikinya. Menurut Sigmund Freud dalam trilogi kedirian manusia melingkupi ‘id’ sebagai akal fikiran, ‘ego’ sebagai hasrat, dan ‘super ego’ yang tak lain adalah nurani. Penggunaan salah satu diantaranya memiliki konsekuensi tertentu yang diterima pihak lain di luar dirinya, terlebih dirinya sendiri.
Pola pemahaman yang berbeda-beda antara satu orang dengan lainnya menunjukkan subjektifitas. Habermas mengutarakan Lebenswelt yang menyingkap bahwa setiap individu mempunyai situasi yang dihayatinya masing-masing. Meski begitu, hasrat manusia lebih menguasai bertindak sebagaimana diutarakan cendekia Ahmad ad-Da’ur. Adapun nurani, rasa atau kecenderungan baik-buruk yang pasti dimiliki manusia secara kodratiah. Maka konstruksi ilmu pengetahuan mensejajarkan kecenderungan tindakan manusia berdasarkan penilaian objektif yang dicerna akal fikiran.
Di luar semua itu, manusia secara alami memiliki nalar beragama. Agama berupa keyakinan manusia untuk tunduk pada sesuatu yang paling agung, atas terciptanya alam semesta beserta isinya. Pada tataran praktisnya, agama merangkum nilai-nilai keajegan kehidupan manusia di dunia dan kehidupan akhirat yang dijanjikan setelah fana bumi. Pada kenyataannya, keberagamaan seseorang sangat terpengaruh agama orang tua. Dalam agama, janji tempat kembali yang baik (surga) dan tempat kembali yang buruk apabila bergelimang dosa (neraka), adalah imbal dari berkeyakinan. Karena sifat dari agama itu sendiri adalah kepatuhan, seseorang menjadi cenderung takut untuk mencari kebenaran agama, terlepas dari agama turunan. Dengan kata lain, berdasarkan pemikiran Durkheim, tak pelak sebuah konsekuensi logis ketika seseorang terafiliasi pada sesuatu, yang membuatnya terikat dengan aturan-aturan di dalamnya.
Agama sebagai sebuah ajaran, sebagai kebenaran. Alih-alih sebuah kebenaran, karena banyaknya keyakinan agama, hal ini menimbulkan keakuan kebenaran subjektif. Pada tataran pengagungan Tuhan (Islam: tauhid), tentu hal ini tak dapat dikompromikan, masing-masing memiliki penghayatan dan pengalaman spiritual yang tak bisa dibantah atas kekurangan manusia sebagai makhluk yang terbatas.
Manusia yang dikaruniai akal, mengembangkan kemampuan berfikir untuk menjawab praktis hidup bermasyarakat, baik lokal, regional, nasional maupun internasional. Tatanan global dunia ini membutuhkan sebuah keajegan agar kehidupan berjalan secara teratur dan damai. Traktat masyarakat sampai berdirinya sebuah negara, yang kemudian menjadi sistem untuk menciptakan keteraturan tersebut pada prosesnya sangat diilhami oleh keberadaan agama. Kita tengok sejarah peradaban, Bizantium Romawi sangat kental dengan ajaran Kristen; Islam dengan khilafah Islamiyah; di belahan bumi lainnya seperti yang saat ini dikenal sebagai Asia dan Afrika, berkembang keyakinan pada masing-masing wilayah tentang kepercayaan terhadap dewa, sangat kental digunakan dalam simbol kerajaan-kerajaan pada masanya.
Pada perkembangannya, terjadi determinasi pemikiran dalam penerjemahan sistem sosial yang menandaskan pula idea sebuah struktur masyarakat, disebut ideologi. Percaturannya dimainkan manusia, dan struktur masyarakat selalu berkembang pada siklis tertentu, tergantung kekuatan kekuasaan yang melingkupinya. Demikian, sebagaimana digambarkan Thomas Kuhn, kemenangan paradigma atau ideologi bukan karena kehebatan paradigma tersebut yang teruji secara praktis maupun teoritis. Melainkan lebih disebabkan jejaring kekuasaan di dalamnya.
Di Indonesia sendiri, Pancasila ditambatkan sebuah konsepsi ideologi yang menggerakkan sistem kenegaraan dan kemasyarakatan, sebagai nilai luhur yang harus dijunjung warganya, dan mutlak di mata internasional sebagai watak bangsa yang membedakan dari bangsa-bangsa lain di dunia. Keterkaitannya dengan beragam keyakinan agama dan kepercayaan masyarakatnya terangkum dalam sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa yang harus menjunjung kemanusiaan, persatuan, dan keadilan kerakyatan. Robert N. Bellah menegaskan substansi Pancasila dapat diparalelkan dengan civil religion yang memiliki visi kemanusiaan, keadaban serta keagamaan publik yang komprehensif.
Bila saat ini menjamur pergerakan keagamaan ke permukaan, yang berkehendak mensejatikan kultur Indonesia berdasarkan agama tertentu, dapat dikatakan sebagai babak baru sejak tonggak reformasi. Sebelumnya represi keterbukaan berfikir, untuk meyakini paham di luar Pancasila, dilarang tegas penguasa Orde Baru. Dapat dibuktikan melalui analisis Ideological State Aparatus oleh Althusser yang relevan menguak politisasi berfikir masyarakat. Konstruksi pemerintah tentang ke-Indonesiaan bernada memaksa, dengan dilarangnya pengembangan penafsiran Pancasila berdasarkan versi di luar yang dimaksud pemerintah. Hegemoni pemahaman tentang Pancasila dijalankan melalui penataran P4 di kalangan akademisi. Pada segi hukum dan politik mengambang, dimotori mayoritas partai politik yang selalu menguasai kursi parlemen, tentu dibentuk dari hasil pilihan rakyat, yang telah melewati konstruksi pemikiran dan represi hak suara demi terlaksananya kekuasaan tersebut.
Kaum agamawan memang selalu mendapat tempat dalam setiap perubahan sejarah bangsa ini. Gerakan atas dasar keagamaan terjaring dekat dengan masyarakat melalui iming-iming ketaatan pada Tuhan (ruh jama’i), sehingga direspon masyarakat melebihi rasa cinta pada tanah airnya sendiri. Paradigma agama yang sempit apabila sampai menimbun nasionalisme, akan menciptakan pergerakan fanatis keagamaan. Tindakan ekstrim, klaim kebenaran agama menyeringai ranah publik, pada akhirnya akan menyulut perpecahan bangsa.
Kedewasaan beragama dalam pluralitas perlu ditanamkan pada bangsa ini. Maka tak lain dikembalikan pada individu masing-masing untuk memanfaatkan nurani kemanusiaan dan bertindak dengan akal fikir yang sehat. Itu artinya, fanatisme yang merupakan hasrat dan pola fikir paradigma beragama yang sempit, entah itu karena konstruksi pergerakan keagamaan harus ditanggalkan.









