08.24.08
lupa alpa lupa dan Perspektif
“Sudah berapakali kukatakan, jangan sebut aku dengan panggilan itu. Sudah berapakali kukatakan, jangan sebut aku dengan panggilan itu. Sudah berapakali kukatakan, jangan sebut aku dengan panggilan itu. Sudah berapakali kukatakan, jangan sebut aku dengan panggilan itu. Sudah berapakali kukatakan, jangan sebut aku dengan panggilan itu…” Nada dan akselerasi pengucapan, meninggi gairah kemarahan.
“Sen.. sudah berapakali kukatakan kepadamu, jangan panggil aku dengan kata-kata itu.”
Berdesing pergunjingan, Sweety gadis kecil seolah hendak dimatikan ku. “Aku berjanji akan membelikan kamu balon seperti yang kau minta, aku akan membelikan kau boneka seperti yang kau minta, dan aku berjanji akan membawamu pulang, ke tempat di mana kau semula.” Nada dan akselerasi pengucapan, meninggi gairah meyakinkan.
Aku tersandera dengan imaji, terkungkung seperti gambar yang ingin kucoreti di kamar. Moral mana yang menuntun ketika aku bertanya pada publik, aku bukan sebagaimana dikira. Aku mendera super ego, eksistensialis, alpa adalah aku.
Sabtu malam, tak ada yang kukerjakan. Referensi agenda yang ditawarkan Bang Ali padaku kupenuhi. Lupa Alpa Lupa, naskah monolog yang diperankan sekaligus oleh pengarangnya, Marya Yulita Sari (Iya’). Pementasan dari teater Saturday Acting Club (SAC), Yogyakarta.
Tatkala rona kehidupan menikam, biru dan merah mendominasi. Pada yang demikian itu, Chairil Anwar yakin, Aku Adalah Binatang Jalang. Selaksa hendak dikata pada dunia, punya hak apa manusia dengan pribadi lainnya??
Aku memasuki arena gedung pementasan seorang diri. Beberapa teman yang kukenal, aku salami. Beberapa dari mereka menanyakan, “Kok kamu ada disini. Bisanya, lho??” Perspektif minat seni tak seharusnya diindentikkan, pada sebagian besar aktifitas yang dilakoni setiap harinya. “Jajang kan ada dimana-mana…” Ujaran terakhir yang kudengar dari mereka, aku terima sebagai mencairkan kembali suasana, sesuatu permintaan kesempatan persahabatan.
Jam sembilan lewat tiga puluh menit, setelah makan di lesehan, aku lanjutkan menonton aksi panggung anak-anak Punk. Musik yang dibawakan agak Ska-an dan nge-Reggae, cukup membuat kepalaku bergoyang karenanya. Dinikmati saja, meski aku lebih suka mendengarkan Rock and Roll dan Pop, tak jadi soal.
Jam kosong-kosong lewat, baru aku mulai beristirahat. Pikiranku menguak penafsiran kembali pada satu kata, perspektif. Kata itu menunjuk pada ketidakberdayaan manusia yang tak mau memahami orang lain dengan cara pandang yang diobjektifkan. Falsifikasi terhadap sebuah keputusan dan masyarakat terjebak patriarki sosial akan menjadikan eksistensi aku sebagai orang minor dalam hidup.
Politik identitas yang sering aku temukan, dengan id dan bungkus super ego begitu memuakkan penglihatan dan pendengaran keseharianku, dulu, kemarin dan hari ini. Bagaimana aku mempertahankan status quo yang begitu menjerat kebebasan. Meski liberalisasi tak kunjung memberikan penyelesaian. Menjadi narasi besar dengan sendirinya, aku menaruh sesal pada yang demikian itu.

“Insomnia…insomnia…insomnia…” Lantunan background song sebelum pementasan lupa alpa lupa, melilit aku dalam ketaksadaran. Boleh kau kata utopis, interpretasi attitude yang aku lakukan seringkali disalahartikan. Begitulah dunia, pada yang demikian itu aku menjadi absurd. Absurd untuk berbuat, aku pergi dari kehidupan yang kayak tai. Tersisa tinggal animus.
War… Farewell
Locus, apa yang akan diperbuatnya?
Ya, hanya dibentangkanlah keberadaannya kita.
Waktu, apa yang akan diperbuatnya?
Ya, hanya dipisahkanlah pertemuannya kita.

Kalaulah hinomaru melambai diseberang sana, merah putih berkibar senantiasa. Setidaknya tetap terkuak di ingatan, setiap hari senin, kala menjejak dahulu, dilapangan bola itu, upacara tiap-tiap seninnya. Seperti terkena biri-biri, diantara kita kakinya tak hendak tegap berdiri.
Sukasenang, dan kita pun sering bersenang-senang, dengan coklat kolam, dengan coklat sungai, kita pun berenang di atasnya, bersepeda menujunya. Jam empat, sakola agama heula, kalau tidak begitu mana mungkin kita memahami agama sampai saat ini. Apapun yang kita ambil dari sekolah agama, berangkatnya kita bawa permainan yang kala itu bermusim, aya ngadu muncang, aya ngadu kaleci, aya ngadu langlayangan termasuk kejahatan kecil memasukkan koin diikat benang pada telepon umum. Tak cukup disitu, kita belajar menjadi jagoan dengan tangan kosong, kara te.
Sesaat menjadi remaja, menjadi relawan medis sekolah, apa yang dapat diperbuat? Untuk kemanusian, kita mengenal bekal kemanusiaan dan memanusiakan sesama. Berlalu juga meski kau lanjutkan melewati tingkat madya. Aku pun menjadi pandu, yang dengan itu menakar rimba, menjadi calon pemimpin yang hemat cermat dan bersahaja. Tapi kau tetap berpegang teguh dengan Magna Charta. Aku, bukannya menaklukan rimba kepanduan, malah menjadi penghuni rimba sendiri. Rimba yang sangat nyata dengan kebutuhan, terpaksa aku berdagang.
Seakan tak lama, berjenjang satu tahun, aku menyusul merantau ke tanah satria. Di sanalah kita begumul dengan sesak kuliah. Aku memahami makro dalam perekonomian sedang kau menggeluti accounting, di bawah teduh kuda sang Jenderal. Pak Dirman senantiasa menyungging senyum kekar di halaman kampus. Pada temaram lampu taman, kita pernah mengamatinya, nyinyir dengan kemurahan mendoan, dengan kemurahan biaya pendidikan. Karena itu kita merasa diuntungkan, dimanjakan kesederhanaan.

Tak lama berselang, tahu-tahu sudah kelulusan. Sedang aku masih menekuni kehidupan yang sama. Begitu cepat kau mengembang, aku berapresiasi terhadap kesuksesan yang telah kau raih. Selamat…
Di tanah kepenatan, kau temukan cinta yang memberi semangat bagi kepribadian. Rengkuhlah itu selagi kau memiliki ketulusan. Ada sayap yang hendak kau kepakkan. Pada modern, hambatan sayang takkan pupus dengan media, pasti kau pergunakan itu dengan kemudahan. Jangan jadikan keengganan merasuki, aku yakin kau lebih mengerti. Karena seperti banyak kau tahu, aku tak berpengalaman dalam interpretasinya. Kau pun tahu aku lebih terjebak keromantisan perkataan, dan siapa kira, sulit sekali menemukan keadaan serupa yang aku harapkan. Untuk hal ini pasti kau berkelakar menertawakan, aku bakalan berdecak sajalah. Tak ada yang salah. Hahaha…
Kita menikmati persahabatan, dengan itu barang tentu selalu ada perbuatan yang tak mengenakkan. Aku minta maaf setulusnya, sedang apapun yang kau lakukan sebagai menyakitkan, telah lampau aku haturkan memaafkan jauh hari. Kita yakin, semua bukan untuk mencederai, hanya kesalahpahaman dalam kekhilafan, aku yakin begitu.
Banyak tentang kita yang terceritakan, kita simpan sebagai kerahasiaan terbesar yang pernah kita emban. Dan itulah kenyataan yang dapat kita narasikan tentang penggalan kisah, sekedar melepas kepenatan. Meski begitu, hakikat pengalaman, masing-masing kita sajalah yang akan memaknai. Kita begitu dewasa karenanya.
Melangkah setapak perjalanan, manuai bahagia. Itu mengapa, esok, takkan ada yang menahan langkahmu di bandara. Semua cerita di sini, berlalu sejarak melewati hamparan kekanakan, keremajaan dan kedewasaan. Sampai akhirnya menapak terjal, merintangi gemintang cita, langkah hidupmu di masa depan. Gerbang menuju pintu menjadi diri sendiri beserta harapan terbesarmu. Banyak perasaan yang akan menggodai, sebagai kesesaatan yang menyesatkan sajalah kiranya itu. Keberanian untuk melangkah yang kau pilih, aku yakin sebuah putusan yang telah kau matangkan jauh hari sebelumnya.
Tak ada yang rapuh dengan keinginan itu, hanya do’a mengiringi, sampai bertemu dalam masyarakat besar nanti. Ima, kawaru ki ga suru kinou made ni so long. Matta aimasyo…sayonara.
24 Agustus 2008









