09.26.08

Payung

Posted in Cerpen at 1:40 pm by Jajang Habib

Lembaran uang tergeletak di pinggiran, dibiarkan pemiliknya. Padahal, sesekali ia melirik dengan mata ingin mengambil. Aku masih termangu. Tak ada uang sekedar pergi meninggalkan rutinitas keseharian.

Dudukku terpojok pada haluan bangku antrian. Sedikit menggigil, padahal bibir terasa kering. Rokok filter yang terselip pada saku pensil di tas kuambil, segera kupantik. Beberapa orang yang bersebelahan tampak mengibas-ngibas, jarak pandang di depan matanya terhalangi asap rokokku. Asap itu tebal, kalau ditepis atau digenggam tak kalah cepat memudar. Seperti cara termangunya orang-orang di sini, sesekali terusik lalu-lalang, atau beberapa penampilan yang nyentrik.

Dari depan pintu loket, kulihat bapak berseragam polisi menyeruku, disusul menghampiri. Aku membalas sapa senyumnya, namun masih duduk diam.

Komandan investigasi sindikat penjualan WTS itu masih mengenaliku. Padahal operasi yang digencarkan di daerah Pemalang, berlalu 2 tahun lalu. Malah aku sudah lupa, tepatnya melupakan.

Hujan di pelataran stasiun sedikit mereda. Lompatan memburu teduh dari taksi menggericik kubangan, tak dihiraukan orang-orangnya.

Walau bagaimanapun, kejadian memilukan dan memalukan itu tak patut diingat. Komandan itu mengusik ulang kejadian. Meminta maaf untuk kesekian kalinya. Rokokku habis. Ditawarinya lagi kretek berbaju hitam pena emas. Kuambil satu. Orang di sebelahku pergi, seolah mempersilahkan perbincangan kami tak didengarnya, atau untuk duduknya si komandan.

Apa yang kulakukan setelah itu?” Tanyanya setelah tak kuhirau pertanyaan memuakkannya.

Menunggu undang-undang itu disahkan.”

Komitmen kerja dan keberpihakan, sulit ditembus aparat. Maafkan..”

Kediamanku sudah pindah. Sekarang di LSM Panjaitan.”

O yah.. sebuah kemunduran. Maaf aku mendengarnya.”

Barang napi lebih berarti dari berahi. Bukan begitu Pak? Hahaha..”

Mengisolasi salah sebuah perjuangan, dari sekedar advokasi pejabat bejat. Sudahlah sedang tak ingin berdebat ini.” Ketusku..

Berujung hujan, kau tetap cengeng. Tak ingin berpolitik.”

Dasar perut!!”

Hahaha.. Ya sudah..”

Aku menutup pintu dialog. Memesan kopi dari pedagang asong, si kecil ini tampak mengigil dari tadi. Badannya yang hanya terbungkus oblong dekil, terlalu lucu dicubit nyamuk liar. Kuberikan uang lebih, “Ambil saja kembaliannya.”

Saya juga pean satu, Nak.”

Kuperhatikan komandan itu mengepul-ngepul kopi panas dalam cangkir plastik. Cukup lama kami asyik mendinginkan kopi. Kuminta lagi sebatang rokok darinya. Kusepit sebatang dari sodoran sebungkus.

Bapak hendak ke mana, ngomong-ngomong?”

Jakarta. Kebayoran lama.”

Ada kasus baru, Mas. Gila-gilaan kredit usaha rakyat. Menjelang pemilu semakin banyak program perusahaan melakukan diversifikasi kredit. Salah satunya penanganan WTS dan preman, dikasih pekerjaan.” Lanjutnya.

Sampingan apa tetep?”

Maksudnya?”

Pekerjaan itu.”

Wah, saya ndak tahu.”

Heh..” Aku hanya nyengir.

***

Satu jam tiga belas menit dari perbincangan, kereta jurusan Jakarta baru datang.

Saya berangkat dulu. Pikir ulang jika kau mau uang.”

Saya masih mahasiswa. Thanks..”

Hahaha..idealis utopis, berarti kalo sudah lulus kamu segera mencla-mencle. Oke.”

Gak juga. Selamat jalan, Pak..”

Lambaian tangannya mengiringi ketidakpuasan jawaban. Ya sudah, mau dikata apa juga selesai di situ.

Kulepaskan pandangku ke pelataran, merubah posisi duduk. Yang kulihat di pelataran itu, rambut panjang yang sama, sepertinya seorang wanita. Terhalang payung kembang. Sesekali dibuka-bukanya tas kecil, memijit-mijit telepon seluler.

Sudah lima kali ke stasiun, kutemui hal yang sama dua bulan ini. Siapakah dia?

Bersambung…

Karena Kau Bukan Primadona

Posted in Sosial at 1:02 am by Jajang Habib

Taukah siapa pemeran utama dalam kehidupan ini?

Tuhan!! Katanya sebagai pencipta, semesta, entropi, ada difusi di semuanya. Yang memberi dan yang membela, yang dielu-elukan dan dihujat kesekiankalinya lalu dimampatkan doa pengampunan.

Itukah lakon? Yang mengisi relung imaji dan hidup, di setiap benak terselip sebagai durja sekaligus punggawa. Katanya, karenanya ada keshalehan mencipta kebaikan. Ada keculasan berbuntut pencideraan, jahat. Meski dia bermain di belakang layar semesta, berwujud pula dalam kesatuan kehidupan. Ketakterlihatannya berbentuk keterterasaannya.

Tapi sayang, itulah sutradara. Kau hanya sutradara yang terlalu didewa-dewakan. Percaya nasib, hidup tidaknya, karena kemudahan dan cobaan yang digenitkan panjatan-panjatan di setiap episode kehidupan.

Yah…siapakah lakon itu??

Sebentar. Kau pun sekali waktu berujar, nenek moyang mengabarkannya, dan masih kusimpan sampai sekarang, bahwa segala yang tercipta sesempurnanya penggunaan jika dapat menggunakan keakalannya. Kaulah sutradara yang akan memilih pemeran utama. Tunjukkan via firmanmu yang banyak disucikan derajat manusia yang ditinggikan.

Ouhh, ada para utusan dan bangsa-bangsa yang diutamakan, ada pula anak kelahiran yang dipujakan, ada kekasih yang disucikan, ada kesetiaan penyempurna sang nabi dan ada umat yang dijaminkan kekekalan yang baik atasnya.

Jawaban yang tak cukup memuaskan, jika aku dan kamu percaya kesemuanya, tak apalah hari ini kutepis keyakinan keberagamaan. Karena dunia memberi pilihan kalah dan menang. Orang-orang penyair malah ada yang berkata, kalah-mengalah untuk menang atau sebenarnya menang-kemenangan tersimpan kalah telak.

Bukankah lakon akan selalu menang? Bukankah yang culas selalu berbuntut kekecewaan?

Ditanyakan sang sutradara, hanya upah darinya saja yang menunjuk kemenangan-kekalahan sesuatu.

Hanya karena diliarkannya kita memilih peran di belantara dan kebuasan, absurditas menjadi yang terdepan. Ada teks konsep panduan, yang juga tak kalah absurd. Keakuan akal menimbang mana yang bisa dan tak bisa dilakukan. Karena kemampuan, perbedaan memetakan peran. Terpetakan, siapa lakon itu??

***

Sejenak aku menjeda diri, di bawahku utilitarianisme pijakan. Pakaianku basah tersiram ceboran rohani, gaun kapitalisme yang dikenakan olehnya menggantikan seragam kebesaran gotong royong. Kunikmati enak keperkasaan monopoli melebihi ortodoksi etatisme yang ditakutkan. Tiada gemulai longgar selayak mengenakan topi di pengasingan inaksi.

Beberapa helai kertas berlogo bank central kurogoh dari saku yang tak cukup luas, karena bukan cuma itu saja, dua lusin pensil dan telepon seluler mampet semua di dalamnya. Biarkan saja, lembaran itu diputihkan.

Satu pensil kukeluarkan, hitam di atas putih. Bentuk ingatan paling kuat adalah pencatatan yang dapat dibacakan. Hitam di atas putih.

Hitam akan dicatatatkan begitupun putih akan dihitamkan untuk ditulis. Hitam-putih seperti menang-kalah, dua sisi yang tak bisa dipisah, kecuali sisi itu putih yang disepuh atau hitam dilegamkan.

Tokoh utama adalah dia yang menang. Kalah-mengalah untuk menang atau menghindari menang yang justru kalah telak, atau putih yang disepuh atau hendak hitam yang dilegamkan. Seperti itu kira-kira, kira-kira bener atau salah di luar tanggung jawab saya yang nulis.

Lakon utama belum diketemukan. Baru penjahat ulung yang selalu datang, dia adalah kamu….

Next page