11.29.08
Bayang Rembulan Desa Ujungalang (# 5)
Siang terik, terbit lebih cepat ketimbang senyum itu menjadi kernyit diimbangi kening yang juga mengkerut. Saat bau goreng-gorengan menguap dari wajan di setiap dapur rumah sederhana. Dari tepian sungai nampak berderet, dinding putih yang telah kusam, jendela yang kebanyakan berwarna kayu atau hijau telur asin, pucat.
Beberapa bocah di halaman, meneriaki compreng yang berlalu. Meninggalkan sejenak permainan. Lamat-lamat musik dangdut dari rumah paling tersudut, menawan terdengar. “Langit sebagai atap rumah, dan bumi sebagai lantainya…” Waahh saya hapal benar, lagu ini milik Rhoma Irama. Riak yang berirama seolah analog meter amplifier.
Tak seberapa lama, dengan kekuatan mesin berbahan bakar diesel, compreng sampai di tengah segara. Bu Dirjo mengambil alih dayung. Suaminya yang telah mematikan mesin segera berjalan di pinggir compreng ke arah ujung. Digerakkannya perahu kearah bola-bola yang mengapung. Tugas Pak dirjo menariknya, hingga kelihatan jaring apong yang terbenam memerangkap ikan.
Manik mengusikku, “Mas pindah duduk yuk.”
Kujawab dengan mengikuti ajakannya.
Kuperhatikan Pak Dirjo yang tengah berkelit membuka ikatan, yang barangkali terlalu kencang untuk dibuka. Tak banyak bicara, tawaran bantuanku juga tak dihiraukannya.
Sedang Manik, mengambil posisi duduk di sisi kiri untuk menyeimbangkan perahu. Saya jadi salah tingkah.
Kudekati saja Manik yang melihatku sambil terkekeh. Mungkin dalam hatinya berkata, “Sebentar lagi juga, ikatan jaring pasti terbuka, Ayah sudah terbiasa seperti itu.” Hah, ya sudah biarkan saja.
Benar saja, sejenak berpaling menatap riak air, tengah ditumpahkannya juga hasil jeratannya. Bagian depan perahu yang dari tadi kududuki bersama manik, kini terisi beberapa jenis ikan yang masih menggelepar-gelepar. Pak Dirjo kemudian mengikat kembali jaring itu dan dibenamkannya lagi ke dalam air.
Perahu didayung perlahan, menuju bola-bola terapung lain.
Pak Dirjo menarik bola-bola seperti tadi, menumpahkan isinya, dan kembali mengikatnya seperti semula. Dia memiliki tiga jaring yang ditanam di daerah sekitar itu. Begitupun untuk yang ketiga kalinya.
Perahu kemudian didayung menepi ke hutan mangrove, kemudian ditambatkan pada salah satu batang. Bu Dirjo segera berjalan ke ujung compreng mengikuti suaminya memilah hasil tangkapan.
Manik hanya menyabit-nyabit dedaunan mangrove. Sesekali dilemparkannya ke mukaku yang terbengong pada panorama segara. Daripada bengong, saya kemudian membantu mereka.
Sampah-sampah yang berupa daun-daunan dan plastik disisihkan pada ember. Ikannya dimasukkan ke dalam bak kayu. Sore ini mereka mendapatkan sejenis belut laut, yang biasa disebut sidat dan ikan kipper.
Hari menjelang maghrib. Perahu dilepaskan dari tambatan, kami kembali ke kampung.
Bersambung….
11.27.08
RAJA DEMOS*
(Jika M-N meminjam Adagium Soe Hoek Gie, Kita Menyebutnya Kehidupan Kayak Tai)
Salam…
27-11-2008, pukul 09:00, batas toleransi KPR bagi pasangan Mahmud–Nando(M-N) atas pengunduran dirinya dari pencalonan PEMIRA FE, jika memang hendak meralat keputusannya. Tersiar kabar, M-N tetap mengundurkan diri setelah jam sembilan pagi.
Di Hall Gd.D sehari sebelumnya, forum klarifikasi black campaign via sms berkonklusi tanpa sanksi.Stigma negatif melatarbelakangi pengunduran pasangan No.02, secara tertulis diajukan dalam edaran Testimoni Politik dari M-N tertanggal 22/11.
But whatever…
Entah tindakan itu menunjuk kesiapan politik mereka, ataupun malah justru idealism ketika berhadapan dengan lawan politik yang jika disimpulkan dari forum klarifikasi(26/11) memang bersalah. Namun karena alibi konyol motif pelaku penyebar sms dapat dimaafkan pihak-pihak yang berkelit pada multipersepsi isi sms, ya sudah..pencalonan tunggal akan tetap terselenggara.
Gila bener!! Apa-apaan ini??
Berfikir kepuasan, segalanya baik-baik saja jika mengabaikan pikiran rasional. Tetapi toh ada hal, meski kita berada di dalamnya, hal yang merugikan itu, dosa sosial ini, tetap dimaafkan begitu saja.
Kita tengah hidup dalam demokrasi salah kaprah. Segala sesuatu dipaksakan berjalan hanya karena segala keputusan ada di pihak mereka yang memiliki legitimasi.
Ungkapan seorang pemilik legitimasi mahasiswa di kampus ini, pada forum tersebut cukup meyakinkan terjadi penyekatan dalam berdemokrasi. Atau, jangan-jangan justru mereka yang berfikir pragmatis yang mengarahkannya, yang senang dalam kemapanan manzil dan manzilat kampus ini.
Kawan,
Saatnya merubah kekamian dengan kekitaan. Telah banyak kami yang mengusung kebingungan. Secara, laten menghegemoni kedaulatan. Itulah bahaya kepentingan yang seolah tidak dipaksakan.
Pemilik Legitimasi,
Jika benar mengemban amanah, kita berharap agar dapat meluruskan pola pikir.
Namun, jika kepastian tak mungkin dicapai, seorang rasional akan memilih pendapat yang paling mendekati kebenaran, “merubah pola pemerintahan mahasiswa”.
Bubarkan BEM FE1, rethinking, rebuilding, reempowering koordinasi mahasiswa, bukan sekedar representasi tanpa bukti.
* Sebutan lain kumpulan orang yang bergerak tanpa berfikir.
1 Lihat surat terbuka 1, STOP PEMILIHAN CAPRES DAN CAWAPRES BUBARKAN BEM FE SELANJUTNYA, jika sudah dibredel di mading kampus, bisa dilihat di : www.menapakihidup.wordpress.com
Surat terbuka 2 oleh Jajang Yanuar Habib, dipublikasikan di mading kampus Fakultas Ekonomi Unsoed, sejak tanggal 27 Nopember 2008.












