02.17.09
Journal 35 Days KKN POSDAYA DESA KASIH (3rd Day)
Di hari ketiga belum ada keputusan untuk menurunkan konsep kegiatan menjadi teknis pengaplikasian. Jam 10 pagi hanya keliling-keliling desa lagi. Sebelum dhuhur, saya bertemu Mas Andi, penyuluh perikanan dari kecamatan. Barangkali buat selanjutnya kami butuh bantuan dia jadi penyuluh teknis pembesaran lele.
Jam 10 ke balai desa gara-garanya gak ada yang percaya kalo undangan Musdes itu jam 2. karna gak ada yang perlu dikerjakan, kita pun pulang ke Posko melalui jalan Kebon Dalem, melewati jalan pintas yang bener. Gak kayak kemaren kesasar-kesasar…
Hehe..orang sama-sama pendatang, wajar lah nyasar.
Jam 2 mengikuti kegiatan Musdes membahas PNPM mandiri. Cuaca sepertinya tidak bersahabat. Namun sebelum kami berangkat, hujan reda sampai kami tiba di balai desa. Kegiatan musdes berlangsung sampai pukul lima.
Kegiatan musdes inilah awal saya menilai kepribadian temen-temen KKN.
Jam satu siang saya masih bercengkrama dengan Pak Carik, Sekdes, sembari menikmati kopi dan rokok, menghangatkan percakapan, menghalau dinginnya udara dan guyuran keras air pada batu setapak beranda rumah di musim hujan.
Setengah dua Pak Sutomo menjemput Pak Carik ke Musdes, Pak Carik berpesan supaya anak-anak KKN dapat menghadiri pula acara Musdes, sekaligus perkenalan kepada warga. Perkenalan KKN pun sudah diagendakan.
Sebenarnya undangan tanpa surat ini sejak hari kemaren udah disampaikan Pak Carik. Mendekati setengah dua, anak-anak belum juga bersiap-siap, mungkin karena hujan.
Saya pikir sekalian giring anak-anak cewek yang masih di kamar, biar segera ke posko cowok. Lima belas menit, mereka sudah siap.
Mereka nunggu yang cowok bener-bener siap. Saya tahu ini tugas Kormades, seharusnya. Barangkali dia tengah mengerjakan sesuatu dan lupa dengan undangan Musdes.
Saya mengirimkan sms ke Kormades : “Sekedar mengingatkan, undangan musdes jam 2. Harap siap2.”
Jam 2 lebih lima menit, saya bener-bener ke posko cowok, melihat kesiapan di sana. Sebenarnya hanya kesiapan memakai almamater dan niat berangkat menghadiri undangan.
Ternyata Doni alias kormadesnya itu, dan Aji sedang nonton video di laptop. Sedang afif di kamar. Alven, kormacam sedang pergi, sejak tadi pagi ngurus koordinasi KKN di kecamatan Kertanegara.
Ketika saya menghampiri, seperetinya tak pantas jika ditanyakan ulang kesiapan berangkat. Saya memakai almamater saja. Keluar dari kamar, Aji berseloroh, “Jadi berangkat Jang??”
“Lha emang sms ku tadi belum nyampe Don?”
“Hujan Jang..” Timpal Kormades.
“Kita gak usah berangkat Musdes aja lah…ntar malam kan cewe-cewe juga ada pengajian di Kebon Dalem dekat rumah Pak Kades.” Tambahnya.
“Berarti gak jadi berangkat nih?” Tanya saya.
“Bukan begitu. Aku takutnya sakit lho..kasian.”
“Kita diundang lho, kita baru di sini 3 hari, masak menolak undangan. Perkenalan KKN sudah diagendakan juga sama perangkat desa.”
“Trus mau gimana lagi, hujan..”
“Cewek-cewek udah siap lho, masa kita cowok-cowoknya begini?”
“Bukan begitu, takutnya mereka sakit kan..ntar malem kan mereka harus ikut pengajian.” Timpal Doni seraya merubah posisi tiduran ke duduk.
Aji yang dari tadi asyik nonton juga, ikut duduk.
“Oke, kalo emang mereka gak usah berangkat sekarang, kita yang berangkat untuk perkenalan di Musdes. Perwakilan saja.”
Afif keluar dari kamar, dan langsung menimpali. “Katanya kita perkenalan ya Jang?”
Saya gak menanggapi pertanyaan retorisnya.
“Ya udah kita berangkat semua…” Kata Doni menimpali cepat.
Semua mata memandang ke Kormades.
“Ya udah kita berangkat, semua.” Jawab Kormades sambil mematikan laptop.
Percakapan naif itu berlangsung 20 menit. Dan hujan pun reda. Cewek-cewek datang, mereka mengajak berangkat. “Kita udah terlambat ni, ayo berangkat…”
“Kita gak usah berangkat aja lha ya?? Ntar sakit…cewek-cewek ntar malam kan harus pengajian juga. Gimana??” Kormades memberikan pernyataan sedikit bertanya.
Semua pada diam.
“Hujannya reda.. Kita jalan kaki ajah, deket ini lah.. biar ada alasan juga telat.” Ulfa memotong kebisuan.
……….
……….
Agenda Musdes membahas PNPM Mandiri. Desa Kasih mendapat PNPM yang pertama kalinya dari pemerintah pusat. Rencananya, sumbangan PNPM akan disalurkan untuk pembangunan jalan desa. Perkenalan KKN ada di akhir agenda sebelum penutupan.
Disaksikan semua perangkat pemerintahan dari RT/RW sampai Kades hadir di situ. Inisiatif perangkat desa memilih perkenalan KKN pada acara itu memang tepat, kiranya.
……….
……….
Jam 8 malam lebih 10 menit.
Cewek-cewek gak jadi berangkat pengajian. Mereka semua di kamar. Entah karena apa, tapi Bu Sis tau, katanya mereka sakit. Inisiatif Alven ngajak saya ngasih keterangan sama Kades bahwa mereka sakit.
Aku baru hendak naik, dibonceng Alven. Doni berseloroh mengejar dari dalam rumah.
“Ven mau ke mana?”
“Bilang Pak Kades, anak cewek sakit.”
“Ke Adiarsa jadi gak?”
“Ya jadi abis ini.”
“Cihuy..”
“Ikut dulu apa sekarang ke Pak Kades?”
“Gimana ya?”
“Terserah…”
“Ikut aja lah.. apa maning kowe kormadese.”
Saya diam saja mendengar pembicaraan.
Akhirnya semua cowok ikut berangkat. Sayang, Pak Kades tidak ada di rumahnya.
Rasa penyesalan terlontar di mulut Kormades, “Ni gara-gara tadi siang, jadi cewek-cewek sakit..”
“Udah lain kali kita gak usah memaksakan, akhirnya seperti ini.”
Saya mendengar semuanya dengan jelas. Tidak ada alasan cukup bagi dia untuk mengatakan itu dengan proses sampai dia ikut berangkat.
Masih kunikmati perkataannya, ketololan seorang kormades.
Kita pulang, dan saya mengurungkan niat ajakan Alven selaku Kormacam untuk ikut ke Adiarsa. Karena saya tidak punya kepentingan untuk itu. Lebih baik saya di Posko, setidaknya rumah Pak Baryadi yang ketempatan Posko cowok itu, tetap ada anak KKN-nya. Kita belum terlalu akrab dengan kebiasaan di rumah itu.
Saya bilang ke Alven aku turun saja ntar, ga ikut. Dia mengiyakan.
Di pertigaan dekat lapang Kasih, Alven berhenti, menunggu motor satunya yang di pakai bertiga.
Sampai motor yang dikendarai oleh Aji berhenti deket motor yang kami tunggangi, Alven menjelaskan maksud saya.
Aji mengiyakan.
Sebelum motor hendak melaju lagi, Doni berseloroh “Kamu ga jadi ikut Jang?”
“Ni bocah budek apa ya??” Pikir saya dia begitu.
Kujawab saja dengan tegas, “Heu euh…”
Motor melaju sampai Posko. Dan saya turun. Doni sebagai Kormades meminta anak-anak yang lain juga turun dulu, seperti mau memberi instruksi.
Saya ke kamar kecil dulu, pipis.
Ketika saya hampiri, anak-anak sudah berkumpul di sofa ruang tamu. Segera Kormades meminta saya untuk duduk.
Saya duduk dan menunggu hal yang akan dibicarakan.
Saya kaget dengan kalimat pertama dia.
“Jang, ira ada masalah ga dengan saya?” ucap Doni selaku kormades yang terkadang menggunakan panggilan orang kedua kamu dengan ira.
“Lha, maksudnya??”
“Tadi saya liat ira kayak marah gitu waktu ditanya ga jadi ikut ke Adiarsa.”
“Ga tuh..kalo marah emang dari apa awalnya?”
“Ya, maksud saya tadi waktu ngomong depan rumah Pak Kades itu bukan buat kamu. Nah saya kan jadi mikir, terus terang aja, saya ini orangnya selalu memikirkan apa yang sudah diucapkan, jangan-jangan tadi kamu tersinggung.”
“Ini sebenernya aku yang punya masalah sama kamu atau kamu ngrasa aku bermasalah bagi kamu?”
Dia diam, kutanya balik dengan pertanyaan yang sama. Tetap tak dijawabnya.
“Kamu sakit hati gak?? Kalo saya salah, saya minta maap.. Itu saja..”
“Kan udah dijawab tadi juga. Ditanya balik malah kamu gak jawab. Jadi bener kan, kamu yang ngerasa aku masalah buat kamu?”
“Gak…nggak..”
“Kalo begitu saya tanya, kenapa mesti dibikin forum kayak gini??”
Saya lanjutkan keganjilan yang terbesit, “Coba, dengan otoritas sebagai kormades, bikin forum minta maap seperti ini. Untuk apa, heh? Kamu pikir dengan begini masalah tuntas, ketakutan kamu kalo anak-anak menilai kamu orang yang suka menyinggung trus selesai dengan citra kamu sebagai kormades yang cepat ngasih pernyataan maap?? Itu maksud kamu??”
“Mana keikhlasan permintaan maap secara pribadi?? Ini kan urusan kamu dengan saya. Kenapa juga mesti melibatkan orang lain?? Gak etis kan??” Saya terus mempertanyakan.
“Saya atas nama Dony Hananto, meminta maap kalo ada salah. Kita tetap sebagai teman..”
“Lha itu kan soal gampang, dari awal juga kita semua teman, gak ada sangkut pautnya untuk memutus pertemanan kan?? Tadi masalah kamu sebagai kormades, makanya kamu memakai forum ini untuk minta maap. Sekarang kalo ngomongnya begitu, udah jelas kamu sebagai teman saya dan mau minta maap. Makanya saya tanya ulang, kenapa mesti dibikin forum begini??” saya menimpali.
“Ini sebagai pembelajaran, karena kalo seandainya salah tindakan, akibatnya fatal kan?? Coba siapa yang akan menjamin besok, pernyataan kamu dan pernyataan aku menimpali ucapanmu di forum ini bener-bener tulus?? Cuma antara kita kan?”
Dia diam. Alven ikut menetralisir, “Saya sih bener-bener gak ngerti, ada apa sih ini??”
“Tuh kan..emang gak pada ngerti??”
“Kamu sebelum ngumpulin anak-anak, tadi di motor ngomong dulu gak sama Afif sama Aji, saya bermasalah??”
“Ya nggak.”
“So, jelas kan ini masalah pribadimu sama saya.. Ada apa Don? Kamu baru kenal saya kemarin, saya pun demikian.. Dengan begitu sekarang saya lebih jelas tau bagaimana kamu ini.”
“Ya minta maklumnya. Jadi saya ini perasa Jang, jadi kalo abis ngomong ini-itu, saya suka mikir ulang, jangan-jangan tadi menyinggung gitu..jadi saya minta maap..”
“Oke saya atas nama Dony Hananto, minta maap..” Ujarnya lagi
“Minta maap, dan saya juga minta maap kalo belum bisa memaklumi, yang penting tidak diulangi saja kan?!” Timpal saya sambil menyodorkan berjabat tangan.
“Oke, saya minta maap Jang..” Membalas jabatan tangan.
Akur tuh ceritanya… Pembicaraan memakan waktu dua jam kurang. Akhirnya semua tidak jadi berangkat ke Adiarsa.
Akhir pembicaraan dilanjutkan dengan pembicaraan kecil dari mulai aktivitas keseharian, kenal si ini-si itu, ngalor ngidul sampai membicarakan cewek. Sesekali saja saya ikut bicara, sekedar menjawab pertanyaan atau nimbrung menimpali.
Saya asyik dengan percakapan via sms dengan teman.
“Kamu bohong lah Jang, kalo kamu gak aktif di mana pun di kampus.” Tanya Alven.
“Dia sempai lho, jangan salah…” Ujar Doni.
Lha dia tau dari mana, pikirku. Dari awal pertemuan dengan anak-anak KKN saya gak pernah membeberkan aktivitas keseharian.
“Lha kalo di kampus, apa Jang?” Tanya Aji.
“Udah berenti sekarang.”
“Dulu Memi juga kan ira, ya Jang?!” Timpal Doni yang sepertinya sudah tahu.
“Ya..” saya mengiyakan..
“Anak Memi tuh ada Novi ya, cakep banget gila..”
“Hmm..cakep ya Don??” Tanya saya mengulang..
“Iya lah dia tampilannya seksi gitu , trus…halah… Kenangan yang tak tercapai lah.. Dia cakep banget tau..” Ujarnya sambil berseloroh gak berhenti terus pergi ke kamar.
Afif turut masuk kamar. Aji dan Alven keluar rumah, mau masukin motor ke rumah Pak Carik.
Forum bubar.
Journal 35 Days KKN POSDAYA DESA KASIH (4th Day)
Setengah enam pagi saya mau jalan-jalan keliling desa. Keluar rumah, kebeneran ketemu Ulfa. Dia pengin ikut juga, ya sudah diajakin aja semua…
Tapi yang ikut, Ria, Afif, dan Ulfa. Kita keliling Kebon Dalem saja, sekaligus ke rumah Pak Kades.
Tidak banyak yang dibicarakan. Setelah beberapa hari ketemu Pak Kades, terlebih pagi ini, nampak jelas bahwa dia cenderung pendiam. Sehingga setiap pembicaraan dengannya selalu lebih pasif.
Anak perempuan satu-satunya baru tiga minggu melahirkan putra keduanya. Lahir prematur, sama seperti anak pertamanya. Konon pernikahan Pak Kades dengan istrinya pun berturut-turut semua anaknya lahir prematur. Dan semuanya meninggal dunia, kecuali anak perempuannya yang sekarang memiliki suami dari desa yang sama namun kerja di Jakarta sebagai anggota Satpol PP. Pagi itu pun tidak sempat bertemu, karena dia sedang kerja.
Sekitar jam setengah delapan, kami pamit pulang. Tangan kami dibekali satu kerangjang rambutan yang diambil dari pohon depan rumahnya. Saat ini musim rambutan panen, hampir semua rumah punya pohon rambutan. Dan rambutan Pak Kades enak lho…huehuehue
Dari rumah Pak Kades, kita berkunjung ke rumah Pak Rusman. Dia tokoh pemuda, yang sekarang kondisinya sedang sakit. Urat saraf tangannya terjepit bambu ketika sedang memotong bambu di kebun belakang. Sudah tiga bulan tidak bisa beraktifitas normal, sekarang kondisinya udah agak membaik.
Istrinya, Ibu Purwanti menjabat Kaur Umum tengah keropotan menenangkan bayinya, yang lagi doyan kentut.
Katanya, istrinya melahirkan ketika Pak Rusman sedang dirawat di rumah sakit. Memang, dinamika hidup yang ketir, ketika keduanya sedang dalam kepayahan.
Kurang lebih satu jam kita bertamu di Pak Rusman, kemudian kita pamit. Sampai di posko, tak banyak yang dikerjakan selain memasang plang yang sejak kemarin dikeringkan, setelah itu membuat proposal pengajuan dana.
Dana. Dana Posdaya yang dalam pembekalan KKN memang tidak dijanjikan besarnya berapa dari Pemda Purbalingga, membuat kami harus mencari donasi. Namun ketika dikonfirmasi ke LPM, instruksi dari sana tidak boleh melakukan pencarian dana ke instansi mana pun, baik pemerintah maupun swasta.
Waaahh repot.
Meski demikian, kami tetap akan melakukan pencarian donasi, minimalnya ke instansi yang relevan dengan kegiatan yang ntar bkalan dilaksanakan.
Kormacam meyakinkan, bahwa DPL mendukung donasi. Karena tidak mungkin acara terselenggara tanpa dana yang mencukupi.










