06.09.09
Twitter Untuk Para Penulis
Friendster kini hanya keping-keping akun jaringan pertemanan melalui internet. Bukan karena perusahaan penyelenggara bangkrut, melainkan para penggunanya beranjak. Rumah maya facebook kini sangat diminati dan dimiliki secara tunai, yang menjadikannya bebas dari subprime mortgage terutama menuju krisis portofolio perusahaan maupun rumah tangga sebagai contagion effect krisis ekonomi yang menggurita (ups gak nyambung X).
Singkat cerita setelah saya terinpirasi tulisannya Alexis Grace pada posting tulisannya, yang barangkali kalau di-Indonesia-kan, judulnya sama seperti di atas. Kini saya pun berfikir untuk memberdayakan twitter bagi kita semua di Indonesia. Kenapa harus twitter?
Dari segi tampilan, twitter sangat minimalis dan mampu menyuguhkan pesan pengalaman dengan cepat, sekaligus berbagi dengan followings dan follower, hanya dengan mencantumkan url website atau blog yang pernah dijelajahi secara langsung. Diskusi dapat dilayangkan dengan cepat, baik melalui replay atau memberikan statement kepada semua anggota.
Pengakses internet yang memiliki kecepatan terbatas tidak akan terkendala lagi, karena twitter tidak memiliki beban isi situs yang berat seperti facebook, friendstr, hi5, dan sebagainya. Diskusi dalam twitter dapat ditayangkan pada banner blog atau website, yang memungkinkan pengunjung berkomunikasi langsung dengan pemilik tanpa harus tetap membuka blog atau website tersebut dan menggunakan kotak penyelenggara dialog seperti shout mix dan sebagainya.
Dialog dalam twitter lebih mengena, hal ini banyak diunggulkan oleh para pengguna twitter di luar negeri. Mereka (para penulis amatir ataupun ternama), mengaku memperoleh inspirasi dari melihat percakapan di twitter. Karenanya setiap anggota dapat dengan mudah melakukan tweet (menyampaikan informasi).
RSS Feeds twitter dapat ditaruh di bar komputer dan compatible diakses melalui handphone. Sehingga dengan sekilas baca saja, kita bisa membaca pesan dan dialog. Ada hal menarik ketika menggunakan twitter, otak kita dipacu merangkai statement yang singkat, padat, informatif, dan tepat sasaran. Twitter bukanlah satu-satunya free social networking. Tidak ada salahnya jika kita memilih, right?











Dudee said,
August 3, 2009 at 2:08 am
Ho oh Jang,
friendster makin tertinggal wae, tapi menurut saya sie bakalan tetep eksis berapa taun ke depan, bankrupt mah mereun 9 taunan deui hahaha..
cuman eta pengikutna tambah berkurang drastis mun ga ada perubahan feature yg signifikan, konsumennya masih aya ko nu pake terutama abg2..
facebook top pisan lah.. inovatif, secure, plus teu ribet…
oh nya, selain tweetr, komunitas microblogging terbesar di kita salah satuna “plurk” dari sisi popularitas tweeter emang no.1 trtma karena banyak pesohor ternama yang eksis di sini, dan secara tidak langsung memboomingkan tweetr..
lets share to the world…………
jang jawab :
Awalnya kebetulan saya baru tahu ada fitur twitter di widget wordpress, trus cari tau infonya, dan waaahhh ternyata begitu signifikannya twitter buat user di negara-negara utara. Saya coba ajah sekalian, dan wah lagi easy to use, easy to share… belum lagi ada fasilitas hastag, sebagai forum lebih dapat berkembang untuk sebuah wacana. Udah kaya gunain handy talky ajah.. Meski begitu, penggunaan tetap bergantung pada user, kebablasan kayak di facebook menertawakan status yang sebenarnya gak lucu.. Ah.. emang dunia maya emang menawarkan super eksistensi pada kehidupan yang selama ini tidak pernah dihargai dalam kenyataan..
Modifikasi friendster ternyata sekarang udah ada fitur chat nya.. cukup menarik walopun masih beta, tapi penggunanya udah pada beranjak sih.. otomatis, nunggu user yang loyal lagi kayak yang dulu ya.. But prediksimu 9 taun lagi itu gimana cara ngitungnya??
Investasi said,
June 21, 2009 at 2:55 am
ok makasih bos atas informasinya, blog yang menarik