08.05.09

Di Pelataran Elizabeth Dikotomi I dari B Selesai

Posted in Ekonomi tagged , , , at 3:58 am by Jajang Habib

islamic-banking

 

Hingga memasuki studi tingkat akhir di Jurusan Ekonomi Pembangunan, saya baru menemukan escape permasalahan simbol agama dalam IB. Perdebatan dan gundah rasa serta pemikiran selama empat tahun terakhir ini, terjawab kemarin malam.

Diilhami dari sebuah rumah sakit milik yayasan Katolik di Purwokerto, ketika tadi malam, saya dan teman-teman menyempatkan diri menemani kelahiran putra pertama dari senior kami di organisasi Pers Mahasiswa Media Ekonomi. Sekitar pukul dua dini hari pasca satu jam masa kritis persalinan terlewati, saya dan dua teman lainnya, Andi dan Affan, bercakap dengan Mas Heri yang kini wajahnya merona sangat bahagia.

Diterangi lampu jalan samping rumah sakit sembari menghirup dinginnya udara dini hari, Mas Heri bercerita mulanya alasan memilih rumah bersalin yang nyata-nyata menggunakan simbol agama diluar keyakinannya. Sembari mengingat, Mas Heri melanjutkan ceritanya, “Saya ingin menegaskan, bahwa dari banyak referensi, rumah sakit ini pelayanannya sangat baik. Tolong buktikan bahwa itu juga yang saya bakal terima.” Dia mengulangi lagi kata-kata yang dilontarkannya pukul setengah tujuh malam di meja administrasi.

Kekhawatiran tersebut yang diverifikasikan pada petugas, kini pupus. Kebahagiaan saya pun ranum, demi mendengar kebaikan dan kesuksesan.

Barangkali bukan karena alasan agama, toh ternyata ketika sang jabang bayi lahir, perawat mempersilahkan si ayah baru ini melaksanakan ritual kelahiran, seperti mengumandangkan adzan dan membisikkan iqomat di kuping kiri sang bayi yang masih merah.

Disela itu pikiran saya bergelut, lantas apa yang terjadi dengan IB, jika selama ini begitu dikotomik dengan jargon Islami?

Kita memahami, semua agama mengajarkan kebaikan. Meski kita juga sama-sama tidak mengingkari bahwa agama mengkotak-kotakkan manusia. Namun karena keyakinan, seluruh manusia bersatu atas nilai kebaikan. Nah, pada sesuatu yang setara ini IB menjadi mungkin untuk semua. Tentu saja IB diperuntukkan buat siapa saja, tanpa pandang bulu. Hanya saja sistem manajemen usahanya ala Islam.

Lantas kenapa sesuatu yang diangkat ke ranah publik dengan istilah agama menjadi sensitif?

Sebelum hal itu terjawab, mari kita sama-sama mencari hasil studi para ahli kebangsaan, barangkali bisa melengkapi, hari ini seberapa kuat kerukunan masyarakat terjalin? Hari ini tenggang rasa terhadap antar kelompok seberapa erat? Hari ini rasa saling menghormati antar umat beragama seberapa toleran?

Maka, jika hari ini IB memberikan pelayanan yang kurang kepada nasabahnya, pelanggannya, publik, maka masyarakat yang begitu sensitif dengan istilah agama, akan langsung menyerang agama sebagai dasar kesalahan. Sementara Kalau mengutip dari majalah Business Week No. 33, 12 Desemeber 2007, Siti Fadjrijah, yang pada waktu itu Deputi Gubernur Bank Indonesia, mengutarakan ada dua kelemahan utama Bank Syariah, yakni belum memahami kebutuhan riil nasabah, dan masih lemahnya kualitas sumber daya manusia.

Jelas, yang jadi permasalahan pada IB adalah sisi profesionalisme. Sayangnya, ketidaksempurnaan pada IB terlalu dilebih-lebihkan masyarakat yang memandang sebelah mata terhadap B dari I nya. Malah banyak yang sangsi I pada B, yang tak lain perbankan prematur untuk jadi pilar perbankan alternatif, karena sepintas seperti diada-adakan dengan merebaknya unit usaha syariah pada setiap perbankan umum, yang kemudian mulai merambah menjadi cabang syariah.

IB merupakan keniscayaan, yang barangkali lahir dari kebutuhan masyarakat yang mengalami krisis kepercayaan terhadap perbankan umum. Malah jika dilihat dari pengorganisasian lembaga, IB berkecenderungan menjadi yang terdepan di dunia perbankan Indonesia. Dalam kesempatan yang baik ini, di tengah ramainya perbankan umum mengekspansi usaha ke syariah, sebagaimana hukum J.B Say mengingatkan bahwa “Penawaran menciptakan permintaannya sendiri.” maka memang lebih ramai, lebih baik..

Satu hal yang terpenting di sini, IB tidak hanya mengemban kepentingan perusahaan. Melainkan juga tanggung jawab atas nama syariah, yang jika amanah terlaksana, kebaikan turut diciptakan dan menjadi pelajaran bagi kerukunan bangsa Indonesia yang berbhineka. Supaya tidak terjadi perbedaan tafsir kekurangan antara pelaksana (man behind) dengan nilai ajaran (system), bangun profesionalitas untuk semua. Hanya dengan begitu, IB akan diminta oleh semua.

*Catatan : IB singkatan dari Islamic Banking