11.15.09

Lapang Adalah Ruang Netral, Rumput di Sana Bukan Ilalang

Posted in Sosial tagged , at 5:15 pm by Jajang Habib

Anak-anak SD berseragam pramuka berbaris rapi mengikuti komando pembina. Beberapa kelompok membentuk kawanan petugas penterjemah sandi di pojok utara tiang gawang sepak bola dari penanda, dari tengah.

Lapang adalah ruang netral, rumput di sana bukan ilalang.

Dia telah berjalan jauh, di hamparan lapang tak berujung. Lembah berumput, kaki gunung rerumputan, lalu lapang hijau dari rumput. Ada juga mereka yang berkena jubah putih, berlalang berlalu tanpa bersapa.

Sampai pada sebuah rumah. Dia mematung di tepi pagar bakung. Dia tidak memilih untuk masuk, barangkali karena tak ada perlu dilakukan di dalam. Perjalanan panjang itu tidak menjadikannya haus, tidak perlu bermalam, malah damai menunjukkan ke mana dia harus melangkah. Tidak untuk kembali, karena seketika dia hidup kembali, entah bisa juga disebut mati.

Lapang adalah ruang netral, rumput di sana bukan ilalang.

Setelah mendekat, terasa keringat bocah polos itu serupa semangat. Bikin haus, melelahkan tapi seperti kebahagiaan. Banyak canda terdengar tidak berguna karena begitu, disudahi. Sandi-sandi morse pembina membahasakan “tulislah dengan benar”. Pandu pramuka tidak tertawa lagi. Mereka ingat batas waktu.

Lapang adalah ruang netral, rumput di sana bukan ilalang.

Menjalani hidup benar, ditulis-Nya dengan benar. Meski, dia belum sempat bertemu Si Pencatat. Dia tidak tahu ingin di sini atau di sana. Di sana kita sebut dari sini. Dari sana dia sebut di sini bukan di sana.

Apa kita bisa beralih rasa, mencercap apa rasa di luar sendiri? Sekedar menunda sementara berbagai motif untuk sendiri. Konon manusia dinista karena superego-id-ego, mengerti tapi belum tentu mengalami berenang di muara.

Di sana, hitam-putih menjadi merah-putih. Tapi semua orang menutup tabir diri selalu dengan putih. Di lapang rumput hijau, anak-anak pramuka tidak menyimak. Jika besar mereka akan jadi apa? Lantas kita ini apa?

Di sini kita bisa bertemu dan bercerita di tanah yang lebih tinggi. Selamat datang dari mati suri, pak Tua..

 

10.11.09

Mulut Lebar

Posted in Puisi tagged at 1:38 am by Jajang Habib

Setiap saat dapat mengeluarkan kata-kata sekali jadi bahkan yang tampak adalah untaian kalimat tak berguna hingga tak bisa dipahami sebagai makna dalam nuansa yang kehilangan gairah untuk dihiraukan begitu saja dengan mata yang menatap namun dikaburkan lamunan masing-masing dan kepala yang condong ke hadapan yang tepat tetapi demi menyimak pembicaraan di samping dan ruang kehilangan frekuensi diantara otak-otak yang sama-sama mengalirkan energi komunikasi sampai semua yang ada bisa terekam namun tak menjadi perhatian di situ mulailah kepintaran yang ada menuai sebisa mungkin meredakan kata-kata yang berkeliaran di sekitar bagaimana pun caranya namun perdebatan yang tak mendapat tempat bagus daripada disebut kekeliruan masa lalu orang ketika kemarin memiliki harapan tetapi tak untuk dilakukan karena berada pada diri mengiyakan kebutuhan keberadaan untuk diakui tutup namun tak menjadi arti sampai dikatakan tanggung jawab sadar yang tak harus menjadikan keadaan mempersalahkan orang lain dalam kondisinya yang telah dibicarakan dengan orang lain karena mempunyai kesempatan dalam tempat yang tak bisa dijarakkan yang dianggap nilai keuntungan yang bisa memperkuat uji coba kepandaian membuat alur dan logika hubungan yang ditafsirkan secara umum budaya dalam sebuah lingkup paling mikro masyarakat bahwa aku bukan objek dari kamu karena predikat sudah menciptakan keberadaan antara-antara begitu hebatnya tanpa disadari tapi diakui memang begitu adanya jika memang menelan keterangan yang disebarkan dalam paham yang terjalin menitikberatkan pengalaman yang sebelumnya hadir supaya dapat membentuk sikap sama terhadap yang baru dalam gerakan intoleran masyarakat tanpa objek-subjek tanpa menghembuskan penyimpangan-penyimpangan berkata benci maka hentikan.

Next page